• KANAL BERITA

Ribuan Sumur Dalam Tidak Berizin

Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati berfoto bersama pengurus GP3A, di Pendapa Sumonegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (7/11). (suaramerdeka.com/Basuni H)
Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati berfoto bersama pengurus GP3A, di Pendapa Sumonegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (7/11). (suaramerdeka.com/Basuni H)

SRAGEN, suaramerdeka.com -  Meski memiliki sumur dalam sekitar 7.000 yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan, namun pembuatan sumur dalam untuk pertanian menimbulkan masalah. Pasalnya, ribuan sumur dalam itu tidak berizin.

Masalah itu diungkapkan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, saat acara pelantikan pengurus Gabungan Pengurus Petugas Penjaga Pintu Air (GP3A) Sragen, di Pendapa Sumonegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (7/11).

Dampak pembangunan sumur akan menyebabkan keringnya kebutuhan air rumah tangga, karena semua air tersedot sumur dalam. ‘’Saat ini ada sekitar 6.900 atau hampir 7.000 sumur dalam di Sragen. Yang berizin hanya sekitar 300-an saja, itu pun sebagian besar untuk industri, yang persawahan tidak izin,’’ kata Yuni.

Yuni menyampaikan untuk menyedot air dalam harusnya kedalaman lebih dari 100 meter. Namun kenyataannya ada yang kurang dari kedalaman itu. Sehingga membawa dampak jatah air untuk permukiman diambil atau tersedot, juga banyak keperluan rumah tangga mengalami kekeringan.

Selain tidak berizin, akibat yang sudah pasti yakni air tanah menurun. Namun bupati mengaku bila pihaknya kesulitan untuk melakukan penertiban. Pasalnya hal ini harus berhadapan dengan petani dan kestabilan pangan.

Pihaknya mengungkapkan, selain surutnya air tanah permukaan untuk rumah tangga, dilema yang dihadapi setiap musim yakni penggunaan gas elpiji untuk tenaga menyedot air. Ini berdampak kelangkaan gas elpiji.

Yuni mengingatkan agar memikirkan nasib anak-cucu terkait air tanah. Dia mengakui, selama ini belum ada konsep pas untuk mengatasi kekeringan. Termasuk di kawasan utara Bengawan yang setiap tahun membutuhan bantuan air.

‘’Sebenarnya ada Waduk Kedungombo (WKO), banyak sekali airnya. Tapi untuk mengambilnya harus menyedot dan pasti butuh dana cukup besar,’’ katanya.

Ketua GP3A Sragen, Suratman menyampaikan, pihaknya berupaya membantu mensosialisasikan terkait pengeboran sumur dalam. Dia menjelaskan untuk membuat sumur dalam tidak lepas dari perizinan dari dinas terkait. ‘’Kami akan membantu memberi wawasan untuk petani di kalangan bawah,’’ terangnya.

Suratman tidak menampik fakta petani yang membuat sumur dalam dengan kedalaman hanya 60 meter. Sedangkan yang disedot hanya 40 meter dan termasuk air permukaan. Hal inilah yang akhirnya membawa dampak bagi sumur rumah tangga. Dinas terkait dari pemerintah diminta menertibkan sumur dalam sesuai ketentuan.


(Basuni Hariwoto/CN40/SM Network)