• KANAL BERITA

Pengangguran Terbuka Jenjang SMK Tinggi

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, M Bakrun, meninjau teaching factory Flowers Bakery dan Cafe SMK 2 Slawi, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Cessnasari)
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, M Bakrun, meninjau teaching factory Flowers Bakery dan Cafe SMK 2 Slawi, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Cessnasari)

TEGAL, suaramerdeka.com - Pengangguran terbuka pada jenjang lulusan SMK masih tinggi. Hasil analisis potensi ekonomi atas data pengangguran terbuka tahun 2015 menunjukkan sepertiga lebih atau 36,78 persen lulusan SMK masih menganggur.

‘’Artinya, dari 25 orang lulusan SMK, sembilan orang di antaranya belum bekerja atau masih mencari kerja. Jadi mental mencari kerja ini harus dikonversi menjadi mental menciptakan usaha, membangun bisnis,’’ kata Staf Ahli Bupati Tegal, Kushartono, mewakili Plt Bupati Tegal saat menghadiri peluncurkan program teaching factory Flowers Bakery dan Cafe di Gedung Ayu Graha SMK 2 Slawi, baru-baru ini.

Pihaknya menyambut baik pendekatan teaching factory dalam dunia pendidikan vokasi ini. Karena dunia usaha dan dunia industri yang sesungguhnya dihadirkan di sekolah dengan harapan tidak hanya mencetak lulusan yang siap bekerja dan berwirausaha. Serta mampu menjalankan usaha pengolahannya sesuai standar, tapi juga memiliki karakter kemandirian.

‘’Kemandirian ini penting untuk melatih mental siswa karena ketika masuk ke dunia kerja, dunia industri dan usaha, mereka akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang tidak ringan’’ tuturnya.

SMK 2 Slawi ini sebagai salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan pengembangan teaching factory dari Kemendikbud. Teaching factory bermanfaat sebagai wadah untuk melatih siswa bekerja selayaknya profesional dengan produksi barang/jasa yang sesuai standar dunia usaha dan dunia industri.

Hadir meresmikan teaching factory Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, M Bakrun. Bakrun berharap, dengan adanya teaching factory tersebut, SMK 2 Slawi dapat mengembangkan praktek teknis atau praktek melatih anak berwirausaha.

Menurutnya, SMK di Inonesia harus melakukan proses revitalisasi, sesuai dengan amanat Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Kepala SMK 2 Slawi, Imron Effendi menyebutkan, teaching factory Flowers Bakery dan Cafe didirikan untuk menampung hasil praktik siswa agribisnis pengolahan hasil pertanian (APHP), berupa pembuatan roti.

Penerapan teaching factory, lanjut Imron, bertujuan menciptakan sinergi dan integrasi proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran normatif, adaptif dan produktif. Sehingga mengantarkan kompetensi ke peserta didik lebih optimal.

Imron menyebutkan, teaching factory dilakanakan dengan bekerja sama dengan Bahrudin, pelaku bisnis, alumni sekolah tersebut. Sejak pertama diluncurkan pada 27 Oktober lalu, teaching factory Flowers Bakery dan Kafe tersebut ramai dikunjungi konsumen.


(Cessnasari/CN40/SM Network)