• KANAL BERITA

Keterlibatan Orang Tua Bisa Cegah Stunting

Foto Istimewa
Foto Istimewa

PURWOKERTO, suaramerdeka.com - Masalah gizi pada anak saat ini masih menjadi perhatian pemerintah.  Kekurangan asupan gizi pada anak, bisa berakibat terjadinya kasus stunting (tubuh kerdil) pada diri anak.  Pertumbuhan fisik anak menjadi terhambat.  Anak yang mengalami kasus stunting, pertumbuhannya tertinggal dengan anak-anak lain yang mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Meski demikian, permasalahan stunting juga tidak hanya sekadar mengenai kekurangan asupan gizi pada anak semata.  Namun juga terkait kurangnya kesadaran terhadap pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Keluarga, khususnya kedua orang tua memiliki peran yang cukup penting dalam menanamkan kebiasaan anak untuk melakukan pola hidup yang bersih dan sehat.  Apalagi program ini juga tengah gencar disosialisasikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Adapun salah satu kebiasaan sederhana terkait penerapan pola hidup yang bersih dan sehat, yakni dengan membiasakan anak untuk melakukan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Menurut Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Agus Nugroho, perilaku hidup bersih dan sehat diyakini dapat berdampak positif dalam menekan terjadinya kasus stunting pada anak. 

Bila dikaitkan dengan terjadinya kasus stunting, lanjut dia, aktivitas mencuci tangan dengan sabun sangat erat hubungannya.

Salah satu penyakit yang mudah menyerang anak adalah diare.  Penyakit ini bisa muncul, lantaran kurangnya menjaga kebersihan, salah satunya mencuci tangan dengan sabun, baik itu saat berada di rumah maupun di sekolah.  

''Anak yang tidak melakukan kegiatan mencuci tangan dengan sabun saat akan makan, maka akan rentan terserang penyakit diare,'' ujarnya saat acara kampanye cuci tangan di SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Anak yang terserang penyakit diare, maka asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh menjadi berkurang lantaran banyak yang hilang.  Akibatnya pertumbuhan fisik anak menjadi terhambat, bahkan bisa mengalami stunting. 

Terjadinya kasus ini bisa dicegah manakala keluarga, khususnya orang tua ikut terlibat dan mengarahkan maupun melakukan edukasi kepada anak untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat.  Hak anak untuk mendapatkan akses kesehatan harus dipenuhi.  Orang tua dapat memberikan contoh dengan melakukan tindakan yang sederhana, misalnya dengan melakukan cuci tangan pakai sabun.

Agus menjelaskan, sesuai rekomendasi dari badan kesehatan dunia atau WHO, kegiatan cuci tangan sebaiknya dilakukan sebelum makan, sesudah makan, sesudah buang air besar, setelah mencebok pantat anak kecil, dan sebelum memegang bayi.

Aktivitas mencuci tangan yang dilakukan pada saat-saat itu, ternyata memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat.  Bahkan bila aktivitas itu dilakukan, ternyata dapat menurunkan angka kasus penyakit diare hingga mencapai 40 persen.

Ketua TP PKK Kabupaten Banyumas, Erna Sulistiyawati Achmad Husein mengatakan, kebiasaan mencuci tangan dengan menggunakan sabun merupakan aktivitas yang sederhana, tetapi pengaruhnya luar biasa terhadap kesehatan.

''Kesehatan sangat penting dan mahal, sehingga pencegahan perlu dilakukan dan ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, salah satunya dengan mencuci tangan dengan sabun.  Orang tua juga memiliki peran untuk mendorong anak melakukan pembiasaan mencuci tangan,'' jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, mencuci tangan dengan menggunakan sabun merupakan cara yang efektif dalam mencegah atau memutus mata rantai berbagai macam penyakit, salah satunya diare.

Oleh karena itu, dengan membiasakan anak untuk melakukan aktivitas mencuci tangan dengan sabun, maka anak bisa terhindar dari penyakit dan dampaknya positifnya mereka tidak mengalami kasus stunting.

Terpisah Kasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pembinaan Pendidikan Keluarga (Bindikkel) Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Tri Asih Kartikowati mengatakan, orang tua perlu mendapatkan sosialisasi terkait pentingnya pola yang benar pengasuhan anak.  Sosialisasi dapat dilakukan oleh pemangku kepentingan, mulai Tim Penggerak PKK sampai pendidik, khususnya pendidikan lembaga PAUD.


(Budi Setyawan/CN19/SM Network)