• KANAL BERITA

PDAM Tambah Suplai Air dari Dampo Sayung

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - PDAM Tirta Moedal memanfaatkan aliran Dampo-Sayung untuk menambah suplai air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu. Dua pompa yang dipasang, masing-masing berkapasitas 250 liter/detik dan 175 liter/detik telah dipasang. 

Pjs Dirut PDAM Tirta Moedal, M Farchan menjelaskan, dipasangnya dua pompa itu dikarenakan debit air di Dampo-Sayung sudah mulai membaik. Diharapkan, tambahan suplai air dengan total 425 liter/detik itu, produksi air di IPA Kudu membaik. 

''Meski belum sering, hujan yang terjadi membuat debit air di saluran Dampo-Sayung membaik. Karenanya, kami pasang pompa untuk bisa menambah suplai air ke IPA Kudu. Adapun suplai dari Klambu-Kudu, masih kurang dari standar. Bila biasanya 1.000-1.200 liter/detik, kini masih berkirsa 600 liter/detik,'' ujar Farchan. 

Dia menambahkan, tidak hanya, krisis air baku juga terjadi untuk IPA di wilayah selatan. Dari Gunungpati yang biasa menyuplai air 150-160 liter/detik, kini hanya 120 liter/detik. Untuk daerah selatan, penurunan debit air juga terjadi di sumber Wungkap Kasab, Pudakpayung, Banyumanik. Tempat tersebut biasanya bisa menyuplai air 340 liter/detik, kini hanya 312 liter/detik. 

''Hampir semua sumber air baku, kini debitnya berkurang, yang termasuk stabil dari Sungai Kaligarang. Karenanya, produksi air dari IPA Kaligarang, kini juga untuk mendukung daerah yang dialiri dari IPAlainnya. Untuk pemerataan, sistem giliran pun diberlakukan,’'' ujar Farchan.

Sementara itu, Kepala Satuan Non Vertikal Tertentu, Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (SNVT PJPA) BBWS Pemali-Juana, Dyah Perdhani menuturkan, normalisasi saluran Klambu-Kudu untuk paket 1 masih 47 persen, sedangkan Paket 2, sebesar 54 persen. Proyek normalisasi saluran sepanjang 41 km tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2019.

Kendala normalisasi, yakni air harus terus mengalir saat pengerjaan. Sedangkan saat ini, masih ada lahan yang digunakan warga. Sering terjadi pencurian di sepanjang saluran pengganti, atau saluran darurat, yang digunakan agar air tetap mengalir. 

''Kendala lain, yakni saat ini berbarengan dengan musim tanam pertanian di sepanjang saluran Klambu-Kudu. Para petani mengambil air secara ilegal dari Saluran Air Baku (SAB) Klambu-Kudu. Hal itu menyebabkan, pasokan air ke IPA Kudu Berkurang,'' tambahnya. 

Dia menambahkan, di sepanjang saluran, banyak titik ditempati warga. Hal ini menyulitkan proses normalisasi. Saat ini, sedang dilakukan penertiban. Harapannya, proyek senilai Rp 400 miliar tersebut dapat berlangsung dengan baik. Begitu juga dengan suplai air baku ke IPA Kudu.


(Hendra Setiawan/CN41/SM Network)