• KANAL BERITA

Keluarga Berharap, Joyo Selamat dari Kecelakaan

Korban Pesawat Lion Air JT 610 yang Jatuh

Dua orang anak dari korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Joyo Nuroso terlihat tengah berduka cita atas kabar tersebut. Mereka tengah menunjukkan foto ayahnya, saat bersama keluarga. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)
Dua orang anak dari korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Joyo Nuroso terlihat tengah berduka cita atas kabar tersebut. Mereka tengah menunjukkan foto ayahnya, saat bersama keluarga. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Rumah di Gang Batik Krajan RT 07/RW II, Rejomulyo masih terlihat cukup lengang pada Senin siang (29/10). Rumah tersebut milik korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Joyo Nuroso (50). Korban terdata di manifes pesawat sebagai salah satu penumpang dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.

Hingga saat ini korban belum ditemukan, sehingga pihak keluarga masih berharap kalau Joyo Nuroso dapat kembali dengan selamat. Walau pun begitu, telah ada beberapa tetangga, kerabat, dan sanak saudara dari korban berdatangan untuk menyampaikan ungkapan berduka atas kecelakaan pesawat tersebut.

Anak kedua dari korban, Fajriansyah Mahdy Tsani (16), bercerita kalau ayahnya Sabtu sore (27/10) sempat ke Pekalongan untuk menjenguk Saudara yang baru saja menjalani prosesi lahiran. Korban kemudian sampai di Semarang pada Minggu sore (28/10).

''Saya yang mengantarkan bapak ke Stasiun Tawang untuk ke Jakarta, kira-kira pukul 19.30 WIB. Dari Jakarta, bapak naik pesawat ke Pangkal Pinang. Beliau bekerja di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai Kasubag Umum. Pulang ke rumah setiap dua minggu sekali. Kami masih berharap, bapak selamat dalam kecelakaan tersebut,'' ujar dia, ditemui di rumah bernomor 619 di Kampung Batik tersebut.

Menurut Fajri, bapaknya seringkali mengabari keluarga di rumah kalau sudah sampai di Jakarta tapi ternyata hari itu tidak dilakukannya. Bahkan hingga keesokan harinya, Joyo Nuroso belum juga memberi kabar. Selain Fajri, Joyo Nuroso memiliki tiga anak lainnya yakni Septiana Nurul Hidayah (21) yang merupakan anak pertama, Irsyad Fadhilah (15) anak ketiga, dan Asti Mahdiyah H (10) merupakan anak terakhir.

''Bapak sama sekali tidak mengabari ibu saya, Anna Rohmawati (49), sesampainya di Jakarta. Padahal itu yang biasanya dilakukan bapak kalau sampai di Jakarta, sebelum naik pesawat ke Pangkal Pinang,'' papar dia.

Fajri mengaku, sebenarnya tidak tahu kabar kecelakaan itu. Namun, saat masih di sekolah Fajri dijemput oleh pamannya dan diberitahu jika ada kecelakaan pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang. Siswa kelas XI di SMA 6 Semarang itu kemudian segera mencari kabar lebih lanjut terkait kecelakaan pesawat itu melalui internet. Ia juga mendapat informasi lanjutan dari rekan-rekan sejawat bapaknya.

''Tidak ada firasat apa pun terkait kecelakaan ini. Hanya saja, bapak sebelum berangkat ke Jakarta sempat berpesan agar terus menjaga adik-adik dan ibu. Selain itu, diminta untuk tidak bandel,'' ungkap dia.

Kakak ipar korban, Heri Utomo, menyatakan, kalau korban telah dua puluh tahun bekerja di instansi tersebut. Selama ini Joyo selalu berdinas di berbagai kota, kebanyakan berada di luar Jawa.

''Awalnya di Surabaya, lalu ke Kupang, pindah di Kalimantan, terus di Medan. Baru dua tahun terakhir ini, ia bekerja di Pangkal Pinang. Sampai saat ini kami belum mendapatkan kabar dari pihak maskapai terkait perkembangan terbaru dari kecelakaan ini,'' kata dia.


(Muhammad Arif Prayoga/CN40/SM Network)