• KANAL BERITA

Tim Gabungan Amankan Enam Truk Kayu Jati di Desa Ronggo

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan (PPH) KLHK, Sustyo lriyono (kiri), bersama Direktur Penegakan Hukum Pidana (PHP), Yazid Nurhuda memberikan keterangan di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Semarang, Kamis (25/10). (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)
Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan (PPH) KLHK, Sustyo lriyono (kiri), bersama Direktur Penegakan Hukum Pidana (PHP), Yazid Nurhuda memberikan keterangan di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Semarang, Kamis (25/10). (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Tim Gabungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, serta kepolisian berhasil mengamankan enam truk kayu jati di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati. Tim menduga kayu-kayu itu hasil penebangan ilegal dari KPH di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tim Gabungan dengan 138 personel itu dipimpin langsung oleh Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan (PPH) KLHK, Sustyo lriyono, bersama Direktur Penegakan Hukum Pidana (PHP), Yazid Nurhuda, dan Kepala Seksi Direktorat PPH, Leonardo Gultom.
 
Sustyo Iriyono mengatakan, operasi gabungan dilakukan Rabu (24/10), sekitar pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Dalam operasi itu, diamankan enam truk penuh kayu yang hingga kini masih dihitung jumlah kubikasi kayunya. Desa Ronggo diduga menjadi salah satu pusat penampungan kayu ilegal terbesar di Jawa.

"Ini merupakan tindak lanjut dari laporan pengaduan Direksi Perhutani. Operasi dilaksanakan di lima titik lokasi,'' ujar Sustyo, di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Semarang, Kamis (25/10).

Dia mengungpakan, dari banyaknya kayu di lokasi operasi, diduga menjadi tempat penampungan dan pengolahan kayu ilegal dari 20 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Sebanyak 20 KPH itu berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut informasi, kegiatan illegal itu sudah berlangsung lama.

''Rumah-rumahnya saja dari kayu. Sudah tahunan ini. Indikasinya ini terbesar se-Jawa. Sebelumnya operasi-operasi sudah dilakukan pihak terkait, namun praktiknya masih dilakukan," imbuhnya.

Sustyo menjelaskan, sulitnya membongkar ilegal logging karena harus benar-benar rahasia. Jika rencananya bocor, maka pelaku kabur.
''Awalnya dilakukan di lima titik, tapi geser satu titik. Hal ini karena khawatir bocor. Sebenarnya operasi ini dilakukan bulan lalu, tapi karena bocor, baru dilakukan sekarang," jelasnya.

Lima Orang

Direktur Penegakan Hukum Pidana KLHK, Yazid Nurhuda, menjelaskan hingga kini ada lima orang yang masih dimintai keterangan. Meski demikian pihaknya tidak akan berhenti menelusuri termasuk dugaan keterlibatan pemodal dan lainnya, karena pihaknya memiliki wewenang menelusuri tindak pidana pencucian uang.

"Kami akan menindaklanjuti hasil operasi gabungan ini. Tidak menutup kemungkinan pengembangan kasus ini akan menyeret pihak-pihak lain yang bertanggung jawab termasuk pemodal, penadah, mau pun aktor lainnya," tutur Yazid.

Ia juga menjelaskan sulitnya menangkap pelaku karena ada tekanan dari orang-orang di lokasi. Ketika operasi dilakukan sebanarnya ada dua orang yang hendak dibawa, namun tekanan dari orang-orang di sana membuat KLHK mengambil keputusan lain.

"Saat mau dibawa, massa berkumpul, ada tekanan agar tidak dibawa. Tapi sudah kita identifikasi, tinggal panggil," ujarnya.

Dirjen Gakkum, Rasio Ridho Sani mengatakan, akan konsisten menindak tegas para pelaku kejahatan dan perusakan lingkungan hidup dan kehutanan. Illegal logging dan peredaran kayu illegal harus diberantas karena telah merugikan negara.

''Kami akan tindak jaringan yang terlibat, termasuk pemodal. Operasi represif-yustisi ini diharapkan dapat memberi pesan yang jelas kepada penebang dan pengedar kayu ilegal, kalau pemerintah bersunguh-sungguh dan berkomitmen tinggi memberantas praktik penebangan dan peredaran kayu ilegal,'' tegasnya.


(Hendra Setiawan/CN40/SM Network)