• KANAL BERITA

Hadapi Fintech, BPR Harus Kompetitif

Perbarindo Gelar Munas X

PEMBUKAAN : Munas Perbarindo X di Solo, Senin (22/10). (suaramerdeka.com/ Langgeng Widodo)
PEMBUKAAN : Munas Perbarindo X di Solo, Senin (22/10). (suaramerdeka.com/ Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Kalau mau tetap hidup, BPR harus kompetitif karena persaingan sudah berat. Pear to Pear landing yang dilakukan fintech (financial technology) sudah masuk ke daerah, dengan proses yang cepat bahkan tanpa jaminan, yang hingga kini penyaluran kreditnya sudah mencapai sekitar Rp 13 triliun.

"Karena itu, mau tak mau BPR harus siap bersaing dengan fintech. BPR harus transformatif dengan digital. Dan dengan digital, BPR bisa berkompetisi dan masuk ke pelosok-pelosok daerah dengan produk keuangannya," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso kepada wartawan usai membuka Munas X Perbarindo di Solo, Senin (22/10).

Munas bertema Peran BPR/BPRS Sebagai Mitra UMKM dalam Memperluas Akses Layanan Perbankan Bagi Masyarakat Indonesia itu dihadiri 24 DPD dan dari 48 DPK, pemegang saham, Dewan Komisaris dan Direksi BPR/BPRS anggota Perbarindo se-Indonesia.

Selain menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus lama, memilih ketua dan pengurus baru, Munas selama dua hari itu juga diramaikan pameran produk UMKM binaan BPR/BPRS.

Lebih lanjut Wimboh mengatakan, untuk mensiasati perkembangan zaman, antar BPR juga bisa saling bersinergi, membangun jaringan atau networking bersama-sama dan saling support untuk mengembangkan produknya dan bersama-sama menggunakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

"Kepada fintech, kita juga mengimbau agar tidak terlalu tinggi dalam memberlakukan bunga kredit. BPR jangan seperti rentenir. Fintech juga harus punya empati terhadap pertumbuhan UMKM," kata dia.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengatakan, BPR/BPRS sebagai Mitra UMKM, berkomitmen memperluas akses layanan perbankan bagi masyarakat Indonesia.

Menurut dia, keberhasilan dalam penyaluran kredit mencerminkan produk dan layanan BPR/BPRS dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Dikatakan, perkembangan jumlah kredit yang disalurkan pada Juli 2018 mencapai Rp 95 triliun atau tumbuh 8,59 persen dibanding posisi tahun sebelumnya. Kredit tersebut didominasi sektor UMKM. "Ini mencerminkan industri BPR/BPR Syariah itu pro rakyat kecil, pro UMKM dan pro pemerintah," katanya.

Per Juli 2018, penghimpunan dana jumlah tabungan, mencapai Rp 28 triliun, naik 14,23 persen dibanding posisi tahun sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada sisi deposito, tumbuh 8,99 persen menjadi Rp 60 triliun.


(Langgeng Widodo/CN33/SM Network)