• KANAL BERITA

Omzet Ribuan UMKM Capai Rp 72,6 Miliar

BUAT CAMILAN: Dua pekerja membuat camilan atau makanan ringan di salah satu UMKM yang ada di Kota Magelang. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)
BUAT CAMILAN: Dua pekerja membuat camilan atau makanan ringan di salah satu UMKM yang ada di Kota Magelang. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)

MAGELANG, suaramerdeka.com – Keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Magelang hingga saat ini cukup besar. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mencatat ada sekitar 7.557 UMKM dengan omset penjualan tiap bulan Rp 72,6 miliar dan serapan tenaga kerja mencapai 14.115 orang.

Kepala Disperindag Kota Magelang, Sri Retno Murtiningsih mengatakan, dari jumlah itu paling banyak usaha mikro sebanyak 7.078 usaha, lalu 455 usaha kecil, dan 24 usaha menengah. Mereka menjadi salah satu penopang roda perekonomian di Kota Sejuta Bunga.

“Seiring jumlahnya yang cukup besar, berbagai masalah pun kerap muncul yang dapat mengganggu perkembangan usaha-usaha ini,” ujarnya dalam sarasehan dan bincang-bincang UMKM bertema Kiat Handal Hadapi Era Digital di Skylight Plaza Magelang, Sabtu (20/10).

Dalam acara yang dihadiri 100-an pelaku usaha ini, Retno menuturkan, beberapa masalah yang kerap muncul adalah kualitas produk yang belum sesuai pasar. Begitu pula kendala di pemasaran dan permodalan yang terbatas, jaringan usaha kecil, dan mental sumber daya manusia (SDM) yang lemah.

“Kami lihat pula, kendala lain sarana usaha masih tradisional dan pembukuan yang kurang rapi,” katanya.

Melihat kondisi ini, katanya, pemerintah berkomitmen membantu mengurai permasalahan tersebut. Di antaranya memberikan motivasi, memafasilitasi dan mendampingi, serta mengadvokasi kemajuan dan perkembangan UMKM dengan mengutamakan pola pembinaan piranti lunak dan piranti keras secara simultan dan komprehensif.

“Harapannya, permasalahan itu bisa teratasi,” tandasnya.

Dia mencontohkan soal pemasaran, UMKM harus siap menghadapi perubahan zaman serba digital. Banyak peluang baru yang mengungtungkan. Bahkan, menurutnya tiap pelaku usaha tidak harus memiliki sebuah toko untuk memasarkan produk, membayar gaji bulanan karyawan, dan biaya perawatan lainnya.

“Teknologi digital hal yang sangat revolusioner, tapi semua itu hanyalah sebuah alat. Subyek utama yang menjalankan tetep manusia,” jelasnya.

Sementara itu, perajin akrilik, Fatur Rozaq mengaku, sarasehan ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan usaha yang digelutinya. Ia pun merasa mendapat banyak strategi baru untuk menjalankan bisnisnya.

“Para narasumber banyak membagikan pengalaman dan strateginya dalam berbisnis. Banyak pula saran yang dilontarkan untuk mengatasi kendala-kendala usaha yang sering saya alami. Acara yang bagus, semoga tidak hanya sekali ini, tapi bisa beberapa kali dalam setahun,” ungkapnya.


(Asef Amani/CN42/SM Network)