• KANAL BERITA

Kebutuhan Kayu Ringan 800 Juta Pohon Setiap Tahunnya 

Foto: Rektor Instiper Dr Ir Purwadi, MS dan Plt Ketua ILWA yang diwakili oleh Sumadji Darsono menunjukkan piagam kerjasama. (suaramerdeka.com/dok)
Foto: Rektor Instiper Dr Ir Purwadi, MS dan Plt Ketua ILWA yang diwakili oleh Sumadji Darsono menunjukkan piagam kerjasama. (suaramerdeka.com/dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kebutuhan kayu ringan di dunia, terus mengalami peningkatan. Setiap tahunnya kebutuhan kayu ringan, seperti kayu sengon di dunia ada sekitar 800 juta pohon. Kayu ringan tersebut biasanya dimanfaatkan untuk keperluan furniture, lantai dan banyak lagi lainnya. 

Sementara Indonesia memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan kayu tersebut, karena pohon sengon cocok atau sesuai ditanam di daerah tropis. Melihat kondisi demikian ini, sengon bisa menjadi jenis tanaman hutan dimasa depan. Karena sengon merupakan jenis tanaman yang cepat tumbuh.

Rektor Instiper Dr Ir Purwadi, MS mengatakan itu dalam acara Indonesian Lightwood Cooperation Forum ke-3 tahun 2018 di Sarkara Hall De Tjolomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (19/10). 

Bersamaan dengan itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Instiper yang diwakili Rektor Instiper Dr Ir Purwadi, MS dengan Plt Ketua ILWA yang diwakili oleh Sumadji Darsono. 

Kerjasama dalam kegiatan pembibitan sengon meliputi penelitian untuk menghasilkan bibit unggul sengon, sertifikasi bibit sengon unggul, dan peluang kerjasama magang mahasiswa Instiper Yogyakarta di industri member ILWA.

Lebih lanjut Purwadi mengatakan, sengon (Albazia falcataria) merupakan salah satu jenis kayu ringan (lightwood) yang menjadi komoditas ekspor Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi. Buktinya, kebutuhan kayu sengon terus meningkat terutama yang dimanfaatkan untuk keperluan furniture. 

Sengon yang dihasilkan Indonesia saat ini, menurut Rektor Instiper, kebanyakan merupakan sengon yang dibudidayakan oleh hutan rakyat yang mendukung keberlanjutan dari kayu sengon. Pada luasan 1 hektar hutan sengon dapat menghasilkan 200 kubik kayu sengon. Oleh karena itu, Indonesia harus bangga karena kayu sengon Indonesia telah memenuhi sertifikasi Lightwood di Eropa.

Penerimaan pasar Eropa akan kayu sengon, dikarenakan kayu sengon merupakan kayu yang ringan, cukup kuat, dan mudah dibentuk. Teknologi pengolahan dan pengawetan kayu sengon akan sangat mendukung pemanfaatan kayu sengon untuk bahan perkakas, furniture, dan pengaplikasian kayu sengon untuk mobil catatan yang banyak berkembang di Eropa.

''Namun untuk memenuhi permintaan kayu sengon yang banyak dari dalam dan luar negeri, maka memerlukan bibit unggul sengon dalam jumlah besar. Namun bibit tersebut, harus jelas kualitasnya karena akan mempengaruhi kualitas kayu yang dihasilkan,'' katanya. 

Oleh karena itu, penyediaan bibit unggul sengon menjadi hal yang penting. Selain itu bibit sengon yang ada di pasaran juga sebaiknya disertifikasi. Seleksi sangat diperlukan sebelum bibit tersebut ditanam. 

Instiper Yogyakarta siap membantu anggota Indonesia Lightwood Association (ILWA) untuk melakukan penelitian dan sertifikasi bibit unggul kayu sengon. Instiper juga siap jika diminta menjadi konsultan dalam proses budidaya kayu sengon untuk mendeteksi penyakit atau serangan hama di kayu sengon.

''Untuk itu, kita harus menjaga kepercayaan pasar Eropa akan kualitas dan sustainability kayu sengon yang kita hasilkan. Eropa membeli produk sengon kita karena dalam proses budidayanya melibatkan masyarakat sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat,'' ujarnya. 

''Kayu sengon yang dihasilkan selama ini, juga bukan berasal dari alih fungsi hutan. Sehingga hal ini harus mendapatkan perhatian pemerintah, jangan sampai korporasi besar nantinya ikut membudidayakan sengon hanya untuk tujuan bisnis. Sebab konsumen Eropa lebih menghargai kayu sengon kita karena ada proses pemberdayaan masyarakat didalamnya,'' imbuh rektor.


(Sugiarto/CN42/SM Network)