• KANAL BERITA

Mahasiswa Milenial Juga Mesti Berkarakter

Wakil Dekan Bidang Akademik FBS Unnes, Prof M Jazuli MHum, memberi paparan di hadapan mahasiswa dalam kuliah umum “Bekal Literasi untuk Mahasiswa Bahasa dan Seni di kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, belum lama ini.(suaramerdeka.com/Dhoni Zustiyantoro)
Wakil Dekan Bidang Akademik FBS Unnes, Prof M Jazuli MHum, memberi paparan di hadapan mahasiswa dalam kuliah umum “Bekal Literasi untuk Mahasiswa Bahasa dan Seni di kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, belum lama ini.(suaramerdeka.com/Dhoni Zustiyantoro)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Meski menjadi bagian dari generasi milenial, mahasiswa pada era sekarang mesti membekali diri dengan karakter dan citra diri yang positif. Hal itu juga penting karena karakteristik hidup kaum milenial cenderung menjauhkan diri generasi muda dari sikap humanis dan cenderung individualistis.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof M Jazuli MHum menuturkan, tak bisa dipungkiri jika teknologi informasi telah menggeser kebiasaan lama. Saat ini, konsep bahwa manusia adalah makhluk sosial seakan dipertanyakan ketika fenomena menunjukkan orang makin individualistis.

"Kita lebih sibuk dengan telepon genggam daripada bersosialisasi," ujarnya,dalam kuliah umum Bekal Literasi untuk Mahasiswa Bahasa dan Seni di kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, belum lama ini.

Namun, menurut Jazuli, dalam konteks perguruan tinggi civitas akademika perlu untuk memelajari sekaligus mempraktikkan nilai-nilai keutamaan. Dalam konteks universal, nilai-nilai itu antara lain humanis, disiplin, dan bertanggung jawab.

Jazuli mengatakan, untuk mengasah hal tersebut, mahasiswa bisa memanfaatkan berbagai sarana dan lembaga kemahasiswaan di kampus untuk menempa diri. Sebab, kompetensi dan keterampilan terkait dengan kecakapan hidup tidak cukup ditempa melalui kelas perkuliahan.

Pemateri lainnya yang juga dosen pada Prodi Sastra Jawa Unnes, Dhoni Zustiyantoro menyatakan, kecanggihan teknologi telah mengubah cara belajar mahasiswa pada era sekarang. Di sisi lain, ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi.

"Ketika semua referensi dan informasi tersedia di internet, bagaimana legitimasi perguruan tinggi pada masa mendatang? Hanya integritas, kreativitas, dan sikap humanis yang bakal membedakan manusia dengan teknologi dan mesin," ujar Dhoni.

Ia juga tak memungkiri jika civitas akademika cenderung terjebak pada arus globalisasi, dan bukan lagi pencipta tren. Akibatnya, antara lain, tren penelitian dan teori yang digunakan sekadar mengikuti arus. Untuk itu, ia mengajak mahasiswa untuk menjaga muruah kampus melalui berbagai kegiatan akademis.


(Red/CN40/SM Network)