• KANAL BERITA

Konsumsi Gula Nasional Belum Tercukupi Produksi Dalam Negeri

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebutkan kebutuhan konsumsi gula secara nasional ternyata belum tercukupi oleh produksi dalam negeri ditambah dengan impor yang telah dilakukan oleh pemerintah. "Dari riset yang dilakukan untuk gula, statistiknya memang agak ganjil karena konsumsinya lebih tinggi dari produksi ditambah dengan impor gula," ujar Kepala Bidang Penelitian di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi.

Jika dilihat dari data tersebut, artinya ada suplai yang tidak tercacat untuk pemenuhan konsumsi gula di pasaran. Ada kemungkinan, jumlah kebutuhan itu tertutup dari stok gula rafinasi, yang sejatinya gula tersebut diperuntukkan bagi industri makanan.

Menurutnya, hal itu sesuai dengan data bahwa terjadi kebocoran gula rafinasi sekitar 300 ribu ton setiap tahunnya, yang diduga lari ke pasar konsumen. Adapun sebagian besar gula rafinasi didapat dari impor. Selain itu, jika dilihat sulit dibedakan antara gula konsumsi dengan gula rafinasi. "Artinya ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, dimana konsumen masih membutuhkan gula, tapi di pasar tidak ada, akhirnya yang mengisi gula rafinasi yang seharusnya tidak dijual ke pasaran konsumen," paparnya.

Terkait dengan keluhan para petani tebu yang merasa bahwa produksinya tidak terserap oleh pasar, menurut Hizkia hal itu perlu dilakukan telaah lebih lanjut. Pasalnya, ketidakserapan produksi para petani bukan disebabkan karena ada kebijakan impor.

Bahkan yang menjadi pertanyaan besar, mengapa Bulog sendiri kurang antusias untuk menyerap produksi dalam negeri. "Ada dua kemungkinan. Pertama kualitas tebu dari petani kurang baik, sehingga industri tidak mau mengambil," imbuhnya.

Kemungkinan kedua, lanjut dia, kondisi gula di pasaran berlebih. "Tapi kalau berlebih, harusnya harganya turun. Tapi saat ini harga gula kita masih tetap tinggi dibanding Thailand dan Malaysia," tuturnya.

Oleh karena itu ditegaskan, perlu dilakukan penelitian lebih jauh apa yang menjadi penyebab Bulog dan industri tidak mau menyerap tebu dari para petani. "Seolah mengindikasikan bahwa kualitasnya kurang bagus," katanya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)