• KANAL BERITA

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Program Capres-Cawapres

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) adalah mengenai ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang dimaksud adalah keadaan di mana pangan yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, ketahanan pangan sangat berkaitan erat denganketersediaan pangan, stabilitas pangan dan juga aksesibilitas (keterjangkauan) oleh masyarakat.

Ketiga hal inilah yang harus fokus dibenahi para capres dan cawapres dalam program mereka terkait pangan. Selain itu, untuk mencapai ketahanan pangan, pemerintah sebaiknya tidak lagi menjadikan swasembada pangan sebagai tujuan utama pembangunan sektor pertanian Indonesia.

"Para capres dan cawapres sebaiknya fokus pada ketersediaan komoditas pangan yang berkualitas baik dan juga bisa dijangkau oleh segala lapisan masyarakat. Selama komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat tersedia dalam jumlah yang memadai, maka harganya akan stabil. Hal ini juga akan memengaruhi angka inflasi yang selama ini sering disumbangkan tingginya harga kebutuhan pangan," urai Hizkia.

Penyediaan pangan, lanjutnya, kini tidak hanya soal memenuhi kebutuhan masyarakat saja. Penyediaan pangan kini juga termasuk bagaimana menyediakan pangan yang bergizi untuk masyarakat dan menciptakan food supply chain yang  berkelanjutan untuk masyarakat.

"Food supply chain ini yang masih menjadi masalah di masyarakat. Food supply chain yang ada belum sustainable sehingga seringkali menimbulkan kekisruhan seperti naiknya harga komoditas pangan karena komoditas tersebut tiba-tiba menghilang dari pasaran dan sulit didapat. Gejolak yang timbul akibat fluktuasi harga pangan bisa memengaruhi kestabilan ekonomi," ujarnya.

Hizkia juga menjelaskan pentingnya keterlibatan Indonesia dalam mekanisme perdagangan internasional. Perdagangan internasional tetap dibutuhkan, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini penting karena Indonesia harus menjadi bagian dari global food market yang terintegrasi. Jika Indonesia mengisolasi dirinya sendiri dengan program swasembada yang agresif dan merusak lingkungan, sambungnya, maka Indonesia akan merugikan petani dan rakyatnya sendiri.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)