• KANAL BERITA

Dua Tim Terpadu Masih Melakukan Kajian

Pengelolaan Sampah Jadi Listrik

Sampah yang diduga dibuang sembarangan oleh warga di Sungai Garang banyak yang tersangkut di akar pohon. Hal itu banyak dijumpai di Lingkungan Sapen, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)
Sampah yang diduga dibuang sembarangan oleh warga di Sungai Garang banyak yang tersangkut di akar pohon. Hal itu banyak dijumpai di Lingkungan Sapen, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Dua tim terpadu dari unsur Pemkab Semarang dan PT Angkringan Halal Nusantara selaku calon investor pengelola sampah bersama konsultan sampai saat ini masih mengkaji kelayakan, pemanfaatan, sekaligus melakukan kajian teknis pengelolaan sampah yang nantinya hendak diproses menjadi energi listrik. Keterangan tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang, Nurhadi Subroto, Selasa (16/10). Menurutnya sejumlah kriteria harus dipenuhi sebelum energi listrik yang dihasilkan dijual ke sejumlah kawasan industri.

“Kajian kelayakan masih berjalan, karena jika suatu kawasan industri nantinya menggunakan listrik dari pengolahan sampah maka suplai listrik PLN tidak masuk ke sana. Artinya butuh koordinasi dan kajian lanjut tentang kualitas listrik yang nantinya dihasilkan,” katanya.

Tim Terpadu Pemkab Semarang, lanjutnya, bakal menilai kajian dari calon investor tersebut. Sejalan dengan itu, guna memenuhi kuota sampah yang dibutuhkan untuk mendukung proses produksi listrik yang diminta oleh PT Angkringan Halal Nusantara yakni sebanyak 300 ton setiap hari, Nurhadi menjelaskan, apabila hanya dicukupi dari Kabupaten Semarang saja, tentu belum memenuhi kuota.

Data yang dihimpun DLH Kabupaten Semarang menjabarkan, calon investor tadi juga membutuhkan pasokan sampah organik sebanyak 350 ton setiap hari, enceng gondok 150 ton, dan kotoran sapi lebi kurang 100 ton per hari. Sejauh ini kotoran sapi banyak digunakan petani. Jadi belum menjadi masalah, bahkan para peternak baru-baru ini mulai mendapatkan edukasi pemanfaatan kotoran sapi untuk kompor dan penerangan dari biogas.

“PLN akan melihat kelayakan, kualitas, dan kapasitas produk listriknya. Menyusul tidak hanya dari (bahan baku-Red) sampah organik saja, melainkan bisa juga dari kotoran sapi dan eceng gondok,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sampah di Kabupaten Semarang mulai dilirik investor untuk dikembangkan menjadi energi listrik. PT Angkringan Halal Nusantara sebagai investor waste to energy, menawarkan diri untuk mengelola sampah dari TPA Blondo, Bawen. Rencana tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan pendatanganan Nota Kesepakatan Bersama antara Pemkab Semarang dengan PT Angkringan Halal Nusantara di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang pada 28 Maret 2018.

“Kerja sama ini sifatnya berkelanjutan, pertama telah kita instruksikan untuk menghabiskan sampah di TPA Blondo dahulu. Di samping itu, kita tetap ada penambahan sampah baru yang masih fresh,” kata Bupati Semarang, Mundjirin.

Sebagai awalan, Pemkab Semarang hendak memberikan kesempatan investor untuk memperoleh lahan. Lahan yang dimaksud, nantinya bakal dijadikan pabrik pengolahan sampah. Sepengetahuannya, lahan yang paling cocok berada di sekitar Kecamatan Bawen.

“Paling tidak ya harus dekat dengan TPA Blondo agar mobilitasnya angkutnya singkat,” tandas Bupati Mundjirin.


(Ranin Agung/CN40/SM Network)