• KANAL BERITA

Disensus, Eksistensi Ratusan SMK Tak Diketahui

Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum (keempat dari kanan) dan Direktur Pembinaan SMK Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, M Bakrun menyaksikan MoU antara sejumlah SMK dengan kalangan industri, Selasa (16/10). (Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi)
Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum (keempat dari kanan) dan Direktur Pembinaan SMK Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, M Bakrun menyaksikan MoU antara sejumlah SMK dengan kalangan industri, Selasa (16/10). (Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Sebanyak 439 SMK tak diketahui aktivitasnya menyusul hasil sensus yang dilakukan Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud.

Menurut Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, M Bakrun, pihaknya menyerahkan keberadaan ratusan SMK itu ke pemerintah provinsi untuk memverifikasi.

Hal tersebut dikatakan M Bakrun di sela-sela pembukaan Lomba Kompetensi Siswa SMK di kompleks Stadion Wibawa Mukti Kabupaten Bekasi, Selasa (15/10).

"Sejauh ini belum ada laporannya, apakah sudah terlikuidasi, segan berkembang, bangunannya sudah tak ada, atau malah tak melakukan kegiatan sama sekali seperti di Klaten," tandasnya.

Menurut dia, data keseluruhan SMK yang terdaftar secara nasional semula mencapai 14.217 sekolah. Berdasarkan hasil akhir sensus ternyata, SMK yang daftar ulang hanya sebanyak 13.778 sekolah.

Sensus sendiri bertujuan untuk semakin meningkatkan kompetensi sekolah dengan penajaman bidang keahlian. Hal ini dilakukan guna menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja.

"Untuk menjawab persoalan keternagakerjaan, solusinya lulusan SMK karena sekarang kan 62 persen tenaga kerja didominasi lulusan SMP ke bawah, ini harus SMK, tak bisa langsung ke PT," jelasnya.

Tuntutan akan lulusan SMK yang teruji diharapkan Wagub Jabar, Uu Ruzhanul Ulum. Dia yang membuka kegiatan LKS itu berharap event tersebut membawa hasil nyata. Dalam artian, mereka terserap industri.

Terlebih dalam LKS tersebut disajikan pula nota kesepahaman antara SMK dengan kalangan industri.
"Kalau bisa tak hanya sebatas MoU, di antara keduanya, tapi kesepahaman itu ada implementasinya, lulusannya ada diterima, kalau tidak, buat apa," katanya.

Karena itu, pihaknya akan memonitor hasil nota kesepahaman tersebut. Terlebih, industri Jabar memegang porsi 20 persen nasional. "Saya tak mau lulusan SMK di sini kalah bersaing dalam kemampuan dan keahlian," tegasnya.


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)