• KANAL BERITA

Kebakaran Gunung Merbabu Hancurkan Jaringan Pipa Air

Pemkab Semarang Koordinasi dengan BNPB

Api di sekitar puncak Gunung Merbabu terpantau masih menyala dari Dusun Selo Ngisor, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Senin (15/10) petang. Pemadaman manual hari kedua yang dilakukan relawan gabungan bersama warga Kecamatan Getasan dihentikan sementara karena angin kencang. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)
Api di sekitar puncak Gunung Merbabu terpantau masih menyala dari Dusun Selo Ngisor, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Senin (15/10) petang. Pemadaman manual hari kedua yang dilakukan relawan gabungan bersama warga Kecamatan Getasan dihentikan sementara karena angin kencang. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pipa instalasi air bersih dari sumber di sekitar Pos 2 hancur akibat imbas kebakaran Gunung Merbabu. Hal itu diketahui oleh warga dan relawan gabungan yang kembali bergerak naik untuk memadamkan api, Senin (15/10) pagi.

“Pantauan kami, ada empat lonjor pipa jenis PE ukuran tiga inchi yang hancur terkena api. Jika dihitung total panjangnya, lebih kurang mencapai 200 meter. Akibatnya, suplai air bersih ke Dusun Thekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang terhenti,” kata Kadus Thekelan, Supriyo Tarzan.

Pihaknya mengaku belum mengetahui persis kondisi pipa yang melintasi area Pos 3 pendakian Gunung Merbabu via Basecamp Thekelan. Apakah ikut terbakar atau tidak, menyusul warga belum berhasil menembus area tersebut karena lokasi masih tidak memungkinkan untuk dilalui.

“Lebih dari 100 kepala keluarga (KK) warga Thekelan harus mencari air hingga ke Kopeng, Getasan,” paparnya.

Menyikapi hal itu, Kalakhar BPBD Kabupaten Semarang Heru Subroto menuturkan, pihaknya berencana mengirimkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki ke Dusun Thekelan dan sekitarnya selain mengirim logistik untuk keperluan relawan yang terlibat dalam pemadaman api.

“Kita akan siapkan dan kirim air bersih,” ucapnya.

Heru Subroto menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kaitannya untuk upaya pemadaman kebakaran Gunung Merbabu menggunakan bantuan helikopter maupun pesawat khusus. Opsi tersebut dipilih menyusul pemadaman menggunakan cara manual tidak efektif. Terlebih cuaca serta angin di kawasan yang terbakar selalu berubah-ubah.

“Pemadaman manual sudah dilakukan sejak, Minggu (14/10) siang namun tidak maksimal. Upaya yang sama dilanjutkan, Senin (15/10) pagi hingga sore. Karena kesulitan, kami selanjutnya mohon bantuan pemadaman dengan helikopter,” jelas Heru.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Edy Sutiyarto mengungkapkan, apabila dilihat berdasarkan cakupannya, area Gunung Merbabu yang terbakar diperkirakan sudah lebih dari 20 hektare. Ketika ditanya area yang terbakar, ia merinci sudah mendekati area puncak Gunung Merbabu.

“Saya sudah minta bantuan ke pusat, diantaranya Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) dan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI). Namun belum tahu (keputusannya-Red), karena anggaran untuk operasional water bombing sudah habis digunakan penanganan kebakaran di luar Jawa,” kata Edy.

Padahal, lanjut dia, mulai 8-31 Oktober 2018 mendatang pihaknya sudah mengeluarkan surat keputusan untuk menutup seluruh jalur pendakian menuju Gunung Merbabu guna keperluan antisipasi kebakaran sekaligus pemeliharaan jalur. Berbicara kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi alami, dari kajian hanya terjadi kurang dari 10 persen walaupun cuaca sangat panas seperti di Gunung Merbabu.

“Yang lebih dari 90 persen itu (human error-Red). Ini yang menjadi tanda tanya juga, apakah ada pendaki yang cari jalur tikus. Atau ada orang cari rumput yang naik kemudian merokok terus belum mati betul (sudah ditinggal-Red), ini belum tahu,” tandasnya.

Guna melokalisasi api, Edy melanjutkan, sebenarnya warga dan relawan gabungan yang berangkat dari beberapa basecamp jalur pendakian diantaranya Thekelan, Cuntel, dan Wekas sudah membuat sekat bakar. Namun upaya tadi tidak berhasil karena angin di puncak Merbabu berhembus kencang.

“Sekat bakar lima mater bisa dilewati api. Yang jelas, dengan topografi semacam ini semua orang termasuk saya baru naik ratusan mater saja sudah capek. Medannya cukup sulit, makanya Masyarakat Peduli Api dan Masyarakat Mitra Polisi Hutan Kecamatan Getasan kami libatkan,” tukasnya.


(Ranin Agung/CN40/SM Network)