• KANAL BERITA

Berita Provokatif Kadang-kadang Isinya Mengkritisi

Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Prof Dr Ridwan Sanjaya (paling kiri, memegang mike) sebagai pembicara dalam Diskusi Prime Topic di Hotel Gets Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Prof Dr Ridwan Sanjaya (paling kiri, memegang mike) sebagai pembicara dalam Diskusi Prime Topic di Hotel Gets Semarang. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jelang Pilpres 2019, marak dijumpai berita di media sosial yang sifatnya memprovokasi atau provokatif. Adakalanya berita itu hoaks, namun bisa juga belum tentu hoaks, melainkan sebatas mengkritisi.

Hal itu disampaikan Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Prof Dr Ridwan Sanjaya, dalam Diskusi Prime Topic yang diselenggarakan MNC Trijaya FM Semarang, dengan tema: Kampanye Sehat Pilpres, di Hotel Gets Semarang, Senin (15/10).

"Bisa juga berita atau tulisan itu sebagai hasil cara pandang pembuatnya. Maka perlu diidentifikasi lagi. Jangan asal share, apalagi emosi lantaran terprovokasi," kata Ridwan Sanjaya.

Ridwan menambahkan, saat ini mereka yang menerima atau membaca berita dan menganggap sebagai berita penting, kemudian dishare ada 70 persen. "Sedangkan yang asal ngeshare ada 10 persen. Sisanya sama sekali tidak ngeshare. Ini yang terjadi di media sosial Facebook, karena pengguna Facebook masih cukup tinggi," tandasnya.


(Nugroho Wahyu Utomo/CN41/SM Network)