• KANAL BERITA

HKTI Perangi Mafia dalam Tata Niaga Tembakau

JEMUR TEMBAKAU : Seorang petani tembakau di Desa Pagerejo Kecamatan Kertek, Wonosobo menjemur olahan tembakau di depan rumahnya, baru-baru ini. (Foto: suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
JEMUR TEMBAKAU : Seorang petani tembakau di Desa Pagerejo Kecamatan Kertek, Wonosobo menjemur olahan tembakau di depan rumahnya, baru-baru ini. (Foto: suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jawa Tengah, Abdul Kholiq Arif berkomitmen memerangi mafia dalam tata niaga pertembakauan di wilayah Wonosobo maupun Temanggung. Pasalnya, tata niaga tembakau hingga saat ini dinilai masih amburadul, jadi perlu ada penataan dari hulu, yakni di tingkat petani.

"Dimulai dari pemilihan varietas, konsolidasi lahan, pemumupukan dan manajemen tata kelola yang jelas dan sehat," ujarnya.

"Nasib petani tembakau di Wonosobo maupun Temanggung belum beranjak ke arah lebih baik," tegas Kholiq usai menjadi narasumber Workshop Peningkatan Industri Pengolahan Tembakau dalam Persaingan Global yang dilakukan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian di Hotel Kresna Wonosobo, belum lama ini.

Menurut dia, nasib kurang baik petani tembakau tersebut dinilai lantaran tidak ada kemitraan dan pola hubungan yang sehat di antara para pelaku tembakau. Namun pihaknya memiliki arah, kedepan tembakau harus memiliki kelas jualan yang jelas, luasan jelas, dan volumenya pun jelas.

Untuk memperbaiki tata niaga tembakau, lanjut dia, memang perlu ada penataan dari hulu yakni di tingkat petani. Penataan ke depan dimulai dari pemilihan varietas, konsolidasi lahan, pemupukan dan manajemen tata kelola yang jelas dan sehat.

Kasubdit Program Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian, Arnes Luqman mengemukakan, Wonosobo memang daerah penghasil tembakau. Jadi perlu mendapatkan perhatian agar bisa menjadi penopang industri rokok.

Diterangkan, industri rokok telah menyumbang pendapatan negera hingga Rp 200 trilun per tahun. Itu cukup besar dan belum ada usaha yang mampu memberikan kontribusi sebesar itu. "Jadi pemerintah tidak mematikan industri rokok, tapi membatasi. Di Jawa belum terbentuk kemitraan, petani  masih gunakan bibit lokal. Padahal kebutuhan tembakau sangat tinggi. Disisi lain menjadi penyumbang pendapatan negera terbesar," terang dia.


(M Abdul Rohman/CN41/SM Network)