• KANAL BERITA

Keberagaman Bangsa Rentan Terkoyak Ujaran Kebencian

Pembicara forum dialog interaktif membangun karakter bangsa menuju pemilu damai 2019 menerima cendera mata dari panitia yang diserahkan Kepala LSIK Unimus, Rohmat Suprapto, di Hotel Patra Jasa, kemarin. (suaramerdeka.com/Hari Santoso)
Pembicara forum dialog interaktif membangun karakter bangsa menuju pemilu damai 2019 menerima cendera mata dari panitia yang diserahkan Kepala LSIK Unimus, Rohmat Suprapto, di Hotel Patra Jasa, kemarin. (suaramerdeka.com/Hari Santoso)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Keberagaman Bangsa Indonesia  rentan terkoyak oleh perilaku orang tak bertanggung jawab yang suka melontarkan ujaran kebencian. Sikap tak elok semacam itu akan merusak semangat persatuan dan kesatuan di negara yang tinggal banyak suku, agama, dan ras ini.

''Karena itu, ujaran kebencian bahkan sangat dilarang oleh Islam. Sebab, perkataan buruk, dan melontarkan kebencian bagian dari menanam benih permusuhan. Islam jelas tidak memperbolehkan saling bermusuhan yang merugikan kehidupan,'' tutur Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng, Dr Rozihan, kemarin.

Dia berbicara pada forum dialog interaktif membangun karakter bangsa menuju pemilu damai 2019 di Hotel Patra Jasa. Acara itu juga mengundang pembicara Rektor Unimus, Prof Dr Masrukhi, Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Jateng, Dr Fadlolan Musyafa, Komisioner Bawaslu, Fajar SAK Arif, dan moderator,  Dr Djoko Setyo Hartono.

Rozihan menambahkan, menghentikan sikap yang suka menebar kebencian sangat penting. Selain karena tidak bermanfaat perilaku semacam ini berdosa besar.

Dia meminta mengahadapi agenda besar pemilu 2019, tidak muncul saling melontar ujaran kebencian. Semua orang harus bisa menahan diri walau dalam kondisi berbeda pilihan. Pemilu damai hendaknya juga jangan sampai menyeret agama ke untuk kepentingan tertentu.

Beri Teladan

Fadlolan Musyafa mengakui ekspresi kebencian, permusuhan, hasutan, fitnah dan hoax sebegitu mudah tersebar di dunia maya. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut untuk menghindari perpecahan.  Tokoh agama dan masyarakat diinginkan memberikan keteladanan pada semua pihak.

''Di tengah kekeringan wacana keagamaan yang moderat dan humanis, tak ada salahnya kembali pada cara pandang guru bangsa  Gus Dur,'' jelasnya

Gus Dur membawa agama melalui pendekatan filosofis yakni makna dari agama itu sendiri. Tidak sekedar teks dari agama. Selain itu juga etis, agama ditampilkan sebagai nilai-nilai kesopanan universal. Selebihnya humanis menghadirkan agama sebagai persaudaraan kemanusian yang utuh.

Masrukhi menyatakan, bangsa ini harus tetap menjaga kedamaian, persatuan dan kesatuan. Semuanya juga harus tetap berpikir arif dan bijaksana di tengah kemajuan zaman dewasa ini.

Tak kurang dia mengingatkan pemilu juga bagian dari cara untuk mendukung bangsa ini semakin jaya dan sejahtera. Pelaksanaan pemilu tentunya butuh dijaga bersama supaya bisa aman, lancar, dan damai.


(Hari Santoso/CN40/SM Network)