• KANAL BERITA

Kenaikan Harga Batas Bawah dan Atas Telur dan Ayam Berikan Kepastian Usaha

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Rencana kenaikan harga batas bawah dan batas atas untuk telur dan ayam dapat memberikan kepastian usaha. Penerapan rencana ini juga diharapkan mampu menstabilkan harga telur dan ayam di tingkat petani / produsen.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, 70 persen komponan harga telur dan ayam dipengaruhi harga pakan ternak berbahan dasar jagung. Jagung tergolong komoditas yang inelastis yang artinya adanya perubahan harga jagung tidak akan terlalu memengaruhi jumlah permintaan jagung secara signifikan di tingkat pasar pakan ternak.

Dampak dari hal in akan lebih dirasakan pada biaya produksi. Besaran biaya produksi pada akhirnya memengaruhi harga pakan itu sendiri. Ketika harga pakan naik otomatis harga telur dan ayam pun naik. "Pemerintah perlu memastikan ketersediaan jagung yang berkualitas dan harganya terjangkau di pasaran. Dengan stabilnya pasokan, harga telur dan ayam akan stabil. Adanya kenaikan batas bawah dan atas juga akan membantu menstabilkan harga dan mencegah kerugian yang lebih besar," jelas Imelda.

Pemerintah ingin merevisi lagi peraturan mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk produk telur dan ayam. Sebelumnya hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 58 tahun 2018. Revisi peraturan ini menunjukan bahwa peraturan yang sebelumnya belum efektif untuk menekan laju penuruan harga ayam dan telur di tingkat petani/produsen.

Jatuhnya harga kedua komoditas ini membuat para produsen / peternak ayam dan jagung terpuruk. Selain cost production tinggi, mereka pun ditekan dengan harga ayam/telur yang terus jatuh di pasar.

Sekalipun pemerintah sudah menetapkan HET pada bulan Mei agar harga acuan terendah di peternak berkisar Rp 17 ribu-18 ribu rupiah, fakta di lapangan menunjukan bahwa harga ditingkat petani harnya mencapai Rp 16 ribu. "Artinya kebijakan HET yang disahkan pada bulan Mei lalu ini kurang efektif untuk menjaga kestabilan harga dan melindungi produsen ayam dan telur," lanjutnya.

Imelda menguraikan, situasi ini juga menjelaskan aktivitas peternak/produsen ayam dan telur yang berminat menyimpan sebagian suplai daging ayamnya di cold storage. Aksi ini dilakukan bukan untuk tujuan menimbun, namun lebih untuk mengatasi surplus ayam dan telur yang sudah mulai terjadi dari awal tahun.Dengan disimpannya komoditas ini, para pengusaha bertujuan untuk menekan kerugian yang diakibatkan menurunnya harga telur dan ayam di pasaran.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)