• KANAL BERITA

Malaysia Diminta Jamin Keselamatan Nelayan Indonesia

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Dua nelayan Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal penangkap ikan berbendera Malaysia diculik di Perairan Pulau Gaya, Semporna, Sabah, Malaysia, Selasa (11/9) lalu. Menyusul peristiwa tersebut, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Malaysia dan Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI  diminta terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan otoritas Malaysia dalam melakukan upaya pembebasan kedua nelayan WNI tersebut.

''Kementerian Luar Negeri melalui Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri untuk segera berkoordinasi dengan Konsul RI di Malaysia dan bekerja sama dengan otoritas keamanan di wilayah tersebut guna upaya mengetahui kelompok bersenjata mana yang melakukan aksi tersebut,'' kata Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Jumat (14/9).

Dia juga meminta Kemenlu RI bersama TNI, Interpol, dan Polisi Perairan (Polair) yang menjaga perbatasan untuk berkoordinasi dengan Perwira penghubung di Malaysia untuk segera mengungkap latar belakang penculikan yang terjadi serta mengusut tuntas kasus penculikan terhadap 2 nelayan WNI tersebut. Apalagi hingga saat ini kedua WNI tersebut belum diketahui keberadaannya. 

Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII ini juga memandang perlu Kemenlu untuk memanggil Duta Besar (Dubes) Malaysia di Indonesia serta berkoordinasi dengan KJRI dan International Labour Organization (ILO) RI guna melakukan diplomasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan melakukan upaya pembebasan dan pemulangan kedua nelayan WNI tersebut. Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR juga didorong melakukan pembicaraan bilateral secara intensif dengan Parlemen Malaysia guna mencari solusi terhadap upaya pembebasan dan pemulangan kedua nelayan WNI tersebut. Sekaligus meminta jaminan keamanan bagi WNI yang bekerja di wilayah Sabah, khususnya yang bekerja sebagai nelayan.

Ia juga meminta Panglima TNI melalui TNI AL dan TNI AU untuk meningkatkan patroli dan penjagaan bersama tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Filipina) di laut tiga negara tersebut, dan patroli udara yang terkoordinasi oleh Angkatan Udara tiga negara di wilayah perbatasan. Terutama wilayah-wilayah yang rawan kejahatan guna meminimalisir terjadinya tindak kejahatan terhadap WNI, mengingat penculikan WNI di perairan Sabah sudah terjadi beberapa kali. 

Seluruh WNI yang bekerja di kapal penangkap ikan juga diminta memperhatikan imbauan KJRI di Kinabalu dan Konsulat RI Tawau untuk sementara tidak melakukan aktivitas/melaut di perairan tersebut hingga situasi keamanan di wilayah tersebut kondusif dan diperolehnya jaminan keamanan dari otoritas setempat. ''Hal ini guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,'' kata Bamsoet. 


(Mahendra Bungalan/CN41/SM Network)