• KANAL BERITA

Peternak Minta Ekspor Jagung Dihentikan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam melakukan ekspor jagung dinilai tidak didasarkan atas perhitungan yang tepat dalam menjaga ketersediaan kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, hingga saat masih terjadi kekurangan yang disebabkan menurunnya produksi jagung akibat musim kemarau.

Oleh karena itu, diharapkan kepada pemerintah untuk lebih mengutamakan kebutuhan jagung untuk dalam negeri. "Dianjurkan, demi kepentingan nasional, ekspor jagung dihentikan total," kata Presiden Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi, saat dihubungi.

Salah satu alasan dilakukannya kebijakan ekspor jagung karena disebutkan terjadi surplus panen. Akan tetapi, validitas data surplus tersebut masih dipertanyakan. Sebab, hal itu tidak sejalan dengan menurunnya harga dan ketersediaan jagung di pasaran. 

Menurut Musbar, para peternak unggas dan produsen pakan ternak masih terjerat pada harga jagung yang relatif tinggi. Target dan capaian yang disebutkan oleh Kementan sampai saat ini belum dapat menekan harga jagung. 

Disebutkan, tahun ini pemerintah menargetkan untuk menghasilkan jagung sebesar 33 juta ton, naik sekitar 10 juta ton dari tahun 2017. Sementara kebutuhan jagung untuk peternak dan pakan ternak sekitar 9 juta ton per tahun.

"Artinya, kalau kita hanya butuh 9 juta ton, sementara produksi nasional 23 juta ton (tahun 2017), harusnya harga jagung sekitar Rp3 ribuan, tapi ini tidak pernah mencapai angka segitu, diatas Rp 3.700 sampai Rp 4ribu lebih. Kalau misalnya produksinya berlebih, pasti murah dan mudah," tandasnya. 

Sementara itu Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika menegaskan bahwa ekspor jagung yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah hal yang sudah biasa dan sudah berlangsung bertahun-tahun.

"Kalau bicara ekspor jagung ke Filipina itu kan border trading area, masalahnya sederhana, jagung itu kalau dikirim dari Gorontalo ke Jabotabek jadi mahal, jadi di ekspor ke Filipina, ini sudah berlangsung puluhan tahun namun tidak terekspos, jadi bukan prestasi," ujarnya.

Menanggapi masalah keberadaan jagung dan imbasnya pada pakan ternak, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pangan dan Agribisnis Kemko Perekonomian Musdalifah mengatakan pihaknya melakukan koordinasi dengan semua sektor. 

"Memang soal jagung kami sudah rapat bersama Kementerian Pertanian, mereka memaparkan bahwa ada sentra sentra produksi (Jagung), lokasi-lokasinya dimana saja, nah ini akan kita evaluasi,” ujarnya.

Musdalifah mengatakan, evaluasi akan dilakukan Kemenko Perekonomian pekan depan dan akan terlihat langsung fakta sebenarnya. 


(Satrio Wicaksono/CN41/SM Network)