• KANAL BERITA

Terjerat Narkoba, Kades Menganti Diamankan Polisi

TERJERAT NARKOBA: Kades Menganti Kecamatan Sruweng bersama tersangka lain digiring ke ruangan penyidik Sat Res Narkoba Polres Kebumen, Jumat (25/9). (Foto: suaramerdeka.com/Supriyanto)
TERJERAT NARKOBA: Kades Menganti Kecamatan Sruweng bersama tersangka lain digiring ke ruangan penyidik Sat Res Narkoba Polres Kebumen, Jumat (25/9). (Foto: suaramerdeka.com/Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com - Seorang kepala desa di Kebumen kembali terjerat kasus penyalahgunaan Narkoba. Kali ini menimpa SP (42) Kepala Desa Menganti Kecamatan Sruweng yang ditangkap aparat kepolisian lantaran diduga mengonsumsi Narkoba jenis sabu.

Sejak diamankan polisi pada Sabtu (25/8) sekira pukul 15.30 di rumahnya di Desa Menganti, Kecamatan Sruweng, hingga  saat ini tersangka masih ditahan di Mapolres Kebumen. Tak hanya menangkap tersangka,  polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti perlengkapan untuk Nyabu.

Kapolres Kebumen AKBP Arief Bahtiar melalui Kasubbag Humas Polres Kebumen AKP Suparno mengatakan, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa peralatan untuk nyabu termasuk bong yang dirakit menggunakan botol air mineral. 

"Kami juga mengamankan beberapa plastik klip yang diakui oleh tersangka adalah bekas tempat sabu yang telah dikonsumsi," ujar AKP Suparno didampingi Kasat Res Narkoba Iptu Mardi, Jumat (14/9).

Tersangka dilantik menjadi Kepala Desa Menganti pada awal 2014. Saat diamankan polisi, tersangka berada di tahun terakhir penghujung jabatannya sebagai kepala desa.

Selain SP, dua hari kemudian, Senin (27/8) Sat Res Narkoba Polres Kebumen kembali mengamankan pemakai narkoba berinisial SU (38) warga Desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Banyumas.

Tersangka SU diamanan di depan salah satu rumah makan di Karanganyar Kebumen. Dari tersangka SU, polisi mengamankan satu paket sabu yang dibungkus menggunakan plastik klip warna bening  dan satu handphone Nokia. 

AKP Suparno menambahkan, kedua tersangka dijerat dengan pasal 112 ayat (1) atau pasal 127 ayat (1) huruf a UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

"Ancaman hukumannya minimal empat tahun, maksimal 12 tahun. Denda Rp 800 juta atau paling banyak Rp 8 miliar," ucapnya


(Supriyanto/CN41/SM Network)