• KANAL BERITA

Rupiah Melemah, Proyek Energi Terbarukan Tidak Tertunda

Foto: suaramerdeka.com/dok
Foto: suaramerdeka.com/dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pengurus Pusat Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) optimistis prospek investasi di Energi Baru Terbarukan (EBT) akan menemui titik terang ke depan. Hal tersebut diutarakan Ketua Umum APLSI Arthur Simatupang usai melakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana di Jakarta, belum lama ini.

“Kalau kita lihat dari audiensi dengan Bapak Dirjen (Rida Mulyana) sangat konstruktif dan progresif. Kita lihat ada titik terang industri menuju perubahan yang baik bagi investasi,” ujar Arthur dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/9).

Arthur mengatakan, di audiensi tersebut, pihaknya memperkenalkan kepengurusan baru hasil Musyawarah Nasional (Munas) 2018. Munas tersebut menetapkan Arthur Simatupang sebagai Ketua Umum periode 2018-2021 menggantikan Ali Herman Ibrahim yang telah habis masa bhaktinya terhitung sejak 12 Juli 2018. 

Arthur mengatakan, titik terang dari pertemuan tersebut yakni pemerintah tidak akan menunda proyek pembangkit listrik berbasis EBT. “Kita sudah konfirmasi, EBT tidak akan ditunda,” ujar Arthur. Dia mengatakan, pemerintah dan parlemen sudah sepakat EBT tidak termasuk yang akan ditunda, menyusul merebaknya depresiasi rupiah akhir-akhir ini.

Titik terang lainnya, APLSI juga menyambut positif tawaran pemerintah untuk membantu membenahi iklim investasi di EBT.

“Kita akan siapkan dan memberikan masukan, peraturan atau regulasi mana saja akan segera kita serahkan ke pemerintah. Kita sama-sama ingin menyukseskan target-target pemerintah di EBT ke depan,” ucap Arthur.

Terakhir, pemerintah juga akan segera mengeluarkan Peraturan Menteri mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rooftop  atau listrik surya atap dalam waktu dekat. Dikatakan Arthur, pemerintah telah menargetkan porsi EBT di energi listrik nasional mencapai 23 persen pada tahun 2025.


(Kartika Runiasari/CN41/SM Network)