• KANAL BERITA

STIE Putra Bangsa Jaring 486 Mahasiswa Baru

TANDA PESERTA: Ketua STIE Putra Bangsa Gunarso Wiwoho memasangkan tanda peserta pengenalan kampus kepada mahasiswa baru di Aula Setda Kebumen, Rabu (12/9). (suaramerdeka.com/Supriyanto)
TANDA PESERTA: Ketua STIE Putra Bangsa Gunarso Wiwoho memasangkan tanda peserta pengenalan kampus kepada mahasiswa baru di Aula Setda Kebumen, Rabu (12/9). (suaramerdeka.com/Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com  – Pada tahun akademik 2018/2019, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Putra Bangsa Kebumen menjaring sebanyak 486 mahasiswa baru. Jumlah tersebut terdiri atas 422 mahasiswa Program Studi (Prodi) S1 Manajemen dan 64 mahasiswa Prodi D3 Akuntansi.

Para mahasiswa baru tersebut selama dua hari mengikuti pengenalan kampus (Peka). Pengenalan kampus diawali dengan Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru, Orasi Ilmiah dan Kuliah Perdana yang dilaksanakan di Aula Setda Kebumen, Rabu (12/9).

Orasi ilmiah disampaikan oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik Ika Neni Kristanti SE MSc. Sedangkan kuliah perdana menghadirkan Ketua Yayasan Pendidikan Putra Bangsa Drs H Slamet Ahmadi MM.

Ketua Koordinator Penerimaan Mahasiswa Baru Eko Wardoyo SE menyampaikan, jumlah mahasiwa baru STIE Putra Bangsa didominasi jenis kelamin perempuan sebanyak 320 orang atau 65,84%. Sedangkan 166 atau 34,15 merupakan mahasiswa laki-laki. 

Mahasiswa termuda atas nama adalah Muhammad Agung Gunarto, kelahiran Cilacap 12 September 2001 atau tepat berusia 17 tahun. Sedangkan mahasiswa tertua berusia 50 tahun, empat bulan dua hari atas nama Lantip Tri Kuncoro kelairan Cilacap 8 Mei 1968.

"Mahasiswa termuda sekaligus merayakan ulang tahun bersamaan dengan Ketua STIE Putra Bangsa Bapak Gunarso Wiwoho," ujar Eko Wardoyo dalam sambutannya.

Ketua STIE Putra Bangsa Gunarso Wiwoho SE MM menyampaikan bahwa empat orang mahasiswa diterima melalui program beasiswa pemerintah Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi). 

“Saat ini tercatat terdapat total 21 orang mahasiswa penerima Bidikmisi dan empat mahasiswa sudah menyelesaikan pendidikannya,” ujar Gunarso Wiwoho.
    
Revolusi Industri

Lebih lanjut, Gunarso memaparkan saat dunia berada di era revolusi industri generasi ke-4. Revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. 

Generasi kedua, melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Generasi ketiga, ditandai dengan penggunaan teknologi otomatisasi dalam kegiatan industri. 

"Pada revolusi industri keempat, terjadi lompatan besar bagi sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri, sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik," ujarnya.

Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industri 4.0, yaitu internet of things, artificial intelligence, human–machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D printing. 

Sejak tahun 2011, Indonesia telah memasuki industri 4.0 yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Penerapan industri 4.0 menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi tinggi. Dibutuhkan transformasi keterampilan bagi SDM industri di Indonesia yang mengarah kepada berbagai bidang berbasis teknologi informasi. 

Selanjutnya terjadi shifting pekerjaan karena penerapan Industri 4.0. Pekerjaan tidak hanya di manufaktur saja, tetapi akan berkembang ke supply chain, logistik, R&D. Selain itu, di sektor manufaktur juga terjadi rescaling atau up-scaling untuk memenuhi berbagai kebutuhan.


(Supriyanto/CN39/SM Network)