• KANAL BERITA

Harga Cabai Rawit Putih Kini Hanya Rp 8.000/Kg  

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

SOLO, suaramerdeka.com - Harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok di beberapa pasar tradisional di Kota Solo cenderung turun. Bahkan komoditas cabai yang selama ini memberi pengaruh besar terhadap inflasi, penurunan harganya cukup signifikan dan terjadi sudah lebih dari dua pekan. 

Di Pasar Legi, kata salah seorang pedagang, Lestari, harga cabai rawit merah yang sebelumnya Rp 20.000 per kilogram (kg) kini turun menjadi Rp 15.000, cabai rawit putih dari sebelumnya Rp 10.000 menjadi Rp 8.000, dan cabai hijau besar dari sebelumnya Rp 15.000 menjadi Rp 12.000. 

"Turunnya harga cabai ini karena permintaan pasar kini berkurang, sedang stok barang berlimpah. Sejumlah daerah sudah mulai panen," kata dia, ketika ditemui sejumlah wartawan di kiosnya, Rabu (12/9). 

Di luar cabai, penurunan harga juga terjadi pada komoditas bawang putih, yang selama ini banyak diimpor dari Tiongkok. 

Menurut pedagang, harga bawang putih dari sebelumnya Rp 23.000 per kg kini turun menjadi Rp 22.000. Sedang bawang merah dari sebelumnya seharga Rp 16.000 per kg menjadi  Rp 10.000. Untuk daging ayam ras, dari sebelumnya seharga Rp 35.000 per kg, kini turun menjadi Rp 33.000. Miri, yang kini seharga Rp 34.000 ribu per kg, sebelumnya Rp 40.000. 

"Sekarang memang barang cukup berlimpah, jadi wajar kalau harga berangsur turun," kata Sri Rahayu, penjual bawang.  

Sebelumnya, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo M Taufik Amrozy mengatakan, terjadinya deflasi Bulan Agustus di Kota Solo yang ditandai turunnya harga sejumlah komoditas pokok bukan lantaran daya beli masyarakat turun. 

"Kalau melihat data, tidak bisa hanya dilihay one shot time saja. Kita lihat di bulan-bulan berikutnya, September, Oktober, November, dan seterusnya seperti apa," kata dia. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bulan Agustus menunjukan, Kota Solo mengalami deflasi -0,58 persen. Sementata bulan sebelumnya terjadi inflasi 0,09 persen. Menurut Amrozy, deflasi kali ini belum bisa disimpulkan bahwa daya beli masyarakat turun. 

Ia mengatakan, inflasi dan deflasi kali ini merupakan siklus berulang pada tahun lalu. 

"Kecuali kalau terus-menerus deflasi, itu baru tanda tanya," kata wakil sekretaris tim pengendali inflasi daerah itu. 

Lebih lanjut Amrozy mengatakan, deflasi kali ini hanya bersifat sementara seiring dengan selesainya hingar-bingar Lebaran dan Idul Adha. Dampaknya adalah permintaan berkurang. Kalau kebutuhan naik sudah pasti permintaan lebih banyak.


(Langgeng Widodo/CN39/SM Network)