• KANAL BERITA

Riset Bank Mandiri

Redam Melemahnya Rupiah, Harga BBM Harus Naik

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Berbagai upaya dilakukan pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas perekonomian, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam beberapa bulan terakhir tertekan.

Teranyar, ada satu cara yang dianggap mutakhir untuk meredam pelemahan rupiah, yaitu dengan menyesuaikan harga bahan bakar minyak sesuai dengan harga keekonomiannya.

Tim riset Bank Mandiri dalam Econmark edisi Juli, mengungkapkan, salah satu obat ideal mengurangi tekanan rupiah adalah dengan menyesuaikan harga bahan bakar minyak. Demikian dikutip dalam jurnal tim riset Bank Mandiri, Rabu (12/9).

Memang kebijakan untuk melakukan penyesuaian harga bensin sangat tidak populer, apalagi menjelang tahun politik. Namun, jika harga tetap akan ada berbagai risiko.

Pertama, pemerintah mau tidak mau menambah alokasi anggaran subsidi untuk Pertamina, yang pada akhirnya akan menambah beban pada pembiayaan. Bukan tidak mungkin, defisit anggaran bisa membengkak.

"Strategi ini mungkin tidak mudah dilaksanakan, karena pemerintah sekarang memprioritaskan stabilitas melalui pengurangan defisit anggaran," 

Kedua, beban keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi tersebut akan kesulitan, karena harus menanggung selisih dari kenaikan harga minyak dunia.

Tim riset Bank Mandiri memproyeksikan, kas keuangan Pertamina akan tertekan sebesar Rp 2,8 triliun untuk setiap US$ 1 kenaikan harga minyak dunia. Ini belum memperhitungkan dampak depresiasi nilai tukar.

Setiap Rp 100 depresiasi rupiah terhadap dolar AS, kerugian operasional perusahaan pelat merah tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun. 

Meski demikian, pemerintah diperkirakan tetap menahan harga bensin minimal sampai pemilihan presiden 2019 selesai. Tim riset Bank Mandiri menyebut, ada kemungkinan pemerintah mengambil opsi kedua.


(Red/CN19/SM Network)