• KANAL BERITA

SMK Harus Difokuskan Hasilkan Lulusan Siap Kerja

GALERI BUSANA: Wakil Dekan III Fakultas Teknik Unnes Dr Wirawan Sumbodo MT (paling kanan) saat berkunjung di Galeri Busana, yang memamperkan hasil karya mahasiswa program studi Tata Busana. (Foto suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
GALERI BUSANA: Wakil Dekan III Fakultas Teknik Unnes Dr Wirawan Sumbodo MT (paling kanan) saat berkunjung di Galeri Busana, yang memamperkan hasil karya mahasiswa program studi Tata Busana. (Foto suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sekolah Mengengah Kejuruan (SMK) yang berhasil harus mampu menghasilkan lulusan siap kerja dengan industri sesuai bidang keahliannya. Keberhasilan SMK dapat diukur manakala industri mitra sekolah itu bisa tumbuh, berkembang, dan maju. Dampaknya secara umum negara Indonesia bisa maju, ketika industri berkembang. Karenanya, SMK harus dikembalikan ke khitahnya,  menghasilkan lulusan siap kerja. 

''Pada pengelolaannya, lulusan SMK dibebani tiga hal yaitu siap kerja, bisa berwirausaha, dan siap melanjutkan ke perguruan tinggi. Harus ada perubahan paradigma, SMK seharusnya difokuskan menghasilkan lulusan siap kerja,'' kata Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Unnes  Dr Wirawan Sumbodo MT di Semarang, kemarin. Perlu ada kemitraan, supaya siswa SMK siap kerja. Ketika industri mitra SMK maju, maka sekolah kejuruan itu jadi besar. 

Misalnya, SMK bidang pariwisata memiliki mitra hotel bintang lima, maka sekolah harus punya lift sekelas tempat penginapan yang jadi mitranya. Ini supaya lulusan SMK tidak canggung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2018 sebanyak 133,94 juta orang. Rinciannya, 127,07 juta orang di antaranya penduduk bekerja, sedangkan 6,87 juta orang lain dikategorikan pengangguran.

Dari jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TNT) sebagai indikator mengukur penawaran tenaga kerja yang tak terserap pasar, lulusan SMK tertinggi dibandingkan tingkat pendidikan lain, yakni mencapai 8,92 persen. Wirawan, salah satu pengembang mobil listrik di Unnes menegaskan, jika pengelolaan SMK sudah sesuai kebutuhan industri, maka seharusnya tidak ada lulusan menganggur. Sebab, sekolah mendidik dan melatih siswa agar memiliki keterampilan dan keahlian khusus. 

Wirawan memetakan 11 teori kemitraan yang bisa memberi dampak lulusan siap kerja dan mengurangi pengangguran. Di antaranya, SMK lebih efektif memiliki industri yang relevan dengan program keahlian yang dikembangkan, SMK mitra industri menyiapkan SDM, serta proses pembelajaran dan pelatihan SMK harus identik dengan jenis pekerjaan di industri mitra. 

''Di Jerman, SMKnya menerapkan dual sistem, pendidikannya di sekolah kejuruan dan industri. Di Amerika, ada SMK melatih siswanya jadi pawang binatang seperti pinguin dan lumba-lumba,'' kata dosen Teknik Mesin Unnes yang fasih berbahasa Jerman dan Inggris. Dalam pendidikannya itu, tiga hari praktik di industri arena kebun binatang atau lumba-lumba, sedangkan dua hari disekolah. Ini membuat siswa memiliki keahlian tertentu. 


(Royce Wijaya/CN19/SM Network)