• KANAL BERITA

Peserta WHCI Senang Bisa Belajar Membatik

Para peserta WHCI sedang belajar membatik di Batik Griya Winoto Sastro, Tirtodipuran, Yogyakarta. (suaramerdeka.com/Sugiarto)
Para peserta WHCI sedang belajar membatik di Batik Griya Winoto Sastro, Tirtodipuran, Yogyakarta. (suaramerdeka.com/Sugiarto)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dan delapan orang dari negara Asean peserta World Haeritage Camp Indonesia (WHCI), senang dan kagum setelah menyaksikan langsung dan belajar mengenai kekayaan budaya yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Selama di Kota Budaya para peserta WHCI mengunjungi berbagai tempat-tempat kerajinan batik serta mengunjungi pasar tradisional Beringharjo, Yogyakarta. Selain itu, mereka juga diajari cara membatik yang benar. Dari pengalamannya tersebut, para peserta mengaku senang dan kagum terhadap kekayaan budaya yang dimiliki Yogyakarta.

Kepala Seksi Pengelolaan Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Anton Wibisono mengatakan, kegiatan ini digelar terkait isu kerentanan warisan budaya dunia dari ancaman-ancaman yang berasal dari luar mau pun dari dalam. Para peserta berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang terseleksi. Sehingga mereka adalah peserta-peserta yang mumpuni dan cerdas..

"Mereka memiliki semangat yang besar, kemampuan berpikir kritis dan mampu menjadi poros pendorong dalam usaha pelindungan dan promosi warisan budaya dunia di Indonesia,'' ujar Anton Wibisono, saat mengunjungi Batik Griya Winoto Sastro, Tirtodipuran, Yogyakarta, kemarin.

Menurut dia, Jogja dipilih karena memiliki kekayaan warisan budaya yang kompleks. Berbagai lapis kebudayaan ada di DIY. Dia berharap peserta memahami Warisan Budaya (benda dan takbenda) khususnya yang ada di Yogyakarta dan kaitannya dengan Konvensi UNESCO.

Peserta dapat melihat langsung implementasi warisan budaya di DIY mulai dari Goa Braholo di Kabupaten Gunungkidul, Candi Kendulan Sleman, Kotagede dan Keraton Yogyakarta hingga griya batik dan wayang yang dinilai sebagai satu rangkaian warisan budaya takbenda hasil kebudayaan sebelumnya.

''Selama di Yogyakarta, mereka juga kami ajak jalan-jalan ke Pasar Beringharjo untuk berinteraksi dan wawancara dengan para pedagang batik yang ada di pasar tersebut. Peserta juga kami ajak membuat batik untuk memberi pengalaman cara menghasilkan sebuah karya batik yang baik," katanya.

Sementara Hartanti Maya, Kasi Pengusulan Warisan Budaya Takbenda Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud mengatakan, dari 45 peserta, sebanyak delapan orang berasal dari negara Asean seperti dari Malaysia, Vietnam, Laos, Philipina, Thailand.

''Selama mengikuti kegiatan ini, peserta diberi pemahaman soal batik sebagai warisan leluhur Nusantara. Mereka dapat terlibat dalam pelindungan batik dan bisa terlibat dalam upaya pelestarian terhadap ancaman batik,'' katanya.

Noor Afiq Bin Othman, warga Klantan, Malaysia mengatakan, keikutsertaannya dalam kegiatan itu untuk membedakan proses dan produksi batik di Yogyakarta dan Malaysia. Ternyata, menurut dia, tidak jauh berbeda. Hanya saja masalah corak yang membedakannya. Kalau di Malaysia coraknya lebih ke flora fauna, sementara di Yogyakarta lebih ke kultural.


(Sugiarto/CN40/SM Network)