• KANAL BERITA

Sukses Jadi Dosen, Mantan Sopir Angkot Raih Gelar Doktor di Unnes

GELAR DOKTOR: Dr Hari Wahyono MPd mendapat selempang dari Kepala Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes, Dr Hari Bakti Mardikantoro Mhum usai menjalani sidang terbuka di kampus Pascasarjana Unnes untuk meraih gelar doktor. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)
GELAR DOKTOR: Dr Hari Wahyono MPd mendapat selempang dari Kepala Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes, Dr Hari Bakti Mardikantoro Mhum usai menjalani sidang terbuka di kampus Pascasarjana Unnes untuk meraih gelar doktor. (Foto: suaramerdeka.com/Asef Amani)

MAGELANG, suaramerdeka.com – Dosen Bahasa Indonesia Universitas Tidar (Untidar), Dr Hari Wahyono MPd meraih gelar doktor dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mantan sopir angkutan kota (angkot) di Kota Magelang ini menjadi doktor ke-403 Unnes dan ke-79 Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Gelar ini diraih setelah menulis disertasi berjudul “Pengembangan Model Penilaian Kemampuan Berbicara Mahasiswa Berbasis Teknologi Informasi”. Tujuan penelitiannya untuk menilai kemampuan berbicara mahasiswa: integratif, efektif, efisien, objektif, transparan, edukatif, dan akuntabel.

Hari menjalani sidang terbuka di kampus Pascasarjana Unnes, Selasa (4/9) lalu. Di hadapan penguji, pria kelahiran Magelang, 30 Desember 1964 ini sukses mempresentasikan hasil penelitiannya. Pemilik nilai IP Kumulatif 3,84 ini pun mendapat pujian dari para penguji.

“Rasanya lega bisa meraih gelar ini setelah masa penelitian yang panjang selama empat tahun. Memang lama, karena saya harus mengintegrasikan antara model penilaian kemampuan berbicara mahasiswa dan teknologi informasi,” ujarnya di kantornya, Jumat (7/9).

Ia memulai penelitian dengan melihat kebutuhan dan masalah di lapangan. Hari mengamati di lingkungan kerjanya, yakni FKIP Untidar. Setelah itu membuat konsep manual sampai rumus-rumus perhitungan (skoring).

Ia melanjutkannya dengan membuat desain dan diajukan untuk dinilai. Penilaian ini menjadi bahan revisi yang kemudian diperbaiki. Setelah itu baru dibuat purwarupa (prototype) dan uji coba oleh pemangku kepentingan (stakeholder).

“Setelah uji coba, saya mendapat rekomendasi dan menjadi model. Cukup panjang prosesnya dan saya tidak sendiri, karena dibantu ahli TI Unnes. Akhirnya selesai juga dan produk penelitian saya menjadi model yang dapat diakses di laman www.mutiaraberisi.com,” katanya.

Laman Mutiara Berisi, kata Hari, merupakan singkatan dari Menilai Mutu Berbicara Berbasis Teknologi Informasi. Ada tujuh kelebihan, yakni integratif, fleksibel, simultan, edukatif, transparan, akuntabel, dan ekonomis.

“Integratif, karena model penilaian mengintegrasi antarkomponen yang dinilai dan panca prinsip penilaian sesuai Permenristek Dikti No 44/2015 pasal 19 dan 20. Ekonomis, karena penilaian dapat dilakukan kapan dan di mana saja, juga memakai media elektronik yang bervariasi,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Wakil Dekan 1 FKIP Untidar ini mengambil sampel 40 mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kemampuan berbicara mereka dinilai menggunakan Mutiara Berisi ini.

“Penguji atau penilai tinggal mengisi kolom penilaian yang ada di laman. Hasil akhirnya sudah lengkap dari poin sampai statistik, bahkan ada kolom kelemahan mahasiswa yang diuji,” urainya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari prinsipnya yang berjuang tanpa lelah. “Saya ingin sukses di dunia pendidikan. Dulu usai lulus SMA sempat jadi sopir angkot dua tahun. Lalu kuliah di Untidar dan lulus menjadi dosen di almamater. Tahun 2000 dapat gelar master di Unnes,” ungkapnya.


(Asef Amani/CN41/SM Network)