• KANAL BERITA

Biola WR Supratman Menarik Perhatian Pengunjung

Sejumlah siswa melihat biola bersejarah milik komposer WR Supratman di stan Museum Sumpah Pemuda yang dipajang dalam Pameran Sejarah dan Budaya di Pendapa Pengayoman, Minggu (26/8). (suaramerdeka.com/Raditia Yoni Ariya)
Sejumlah siswa melihat biola bersejarah milik komposer WR Supratman di stan Museum Sumpah Pemuda yang dipajang dalam Pameran Sejarah dan Budaya di Pendapa Pengayoman, Minggu (26/8). (suaramerdeka.com/Raditia Yoni Ariya)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Pameran sejarah dan budaya tingkat nasional yang digelar di Pendapa Pengayoman Temanggung menarik minat masyarakat. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah stan Museum Sumpah Pemuda Jakarta. Lantaran, museum ini membawa serta biola milik Wage Rudolf Supratman, kreator lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Siswa SMP 4 Temanggung, Hartanti, yang datang bersama teman-temannya, mengaku takjub melihat biola tersebut. Kendati sekadar alat musik, namun benda tersebut sangat bersejarah bagi lahirnya bangsa Indonesia. Menggunakan biola ini WR Supratman membuat aransemen lagu "Indonesia Raya".

"Kandungan sejarah itulah yang membuat saya dan teman-teman takjub melihatnya. Bagi kami luar biasa senang bisa melihat benda yang digunakan oleh WR Supratman membuat sesuatu yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Dari sini saya bisa belajar sejarah secara nyata dan tumbuh rasa cinta tanah air saya, betapa dulu para pejuang itu menempuh berbagai cara untuk meraih kemerdekaan," ujarnya, Minggu(26/8).

Biola WR Supratman merupakan buatan Nicolous Amateus Fecit, terdiri dari tiga kayu, yakni cyprus, maple Italia, dan kayu eboni Afrika Selatan. Biola ini diperoleh WR Supratman pada tahun 1914 dari WM Van Eldick sebagai hadiah ulang tahun.

Dari biola ini lah pada tahun 1928 dia menciptakan lagu "Indonesia Raya" yang kini menjadi lagu kebangsaan. Menggunakan biola ini pula WR Supratman mengumandangkan "Indonesia Raya" pada Kongres Pemuda II di Gedung Kramat 106, pada 28 Oktober 1928, yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Kepala Museum Sumpah Pemuda, Huriyati menuturkan, pihaknya selalu berupaya mengenalkan para tokoh nasional melalui museumnya. Upaya itu tidak hanya menunggu pengunjung, tapi aktif melakukan jemput bola. Seperti mengikuti pameran di berbagai daerah di Indonesia.

"Kita punya program keliling, seperti museum masuk kampus, masuk sekolah dan terus meningkatkan kuantitasnya menjadi dua sampai tiga kali dalam setahun dalam rangka publikasi dan promosi. September kita akan pameran di Pekalongan. Mungkin nanti ke depannya akan kita lakukan program museum masuk desa," katanya.


(Raditia Yoni Ariya/CN40/SM Network)