• KANAL BERITA

Lingkar Sastra Gombong Terbentuk dari Grup WhatsApp

LINGKAR SASTRA: Pegiat sastra yang juga penggagas Lisong, Sabur Herdian Raamin  membacakan puisi di Roemah Martha Tilaar Gombong. (suaramerdeka.com / Supriyanto)
LINGKAR SASTRA: Pegiat sastra yang juga penggagas Lisong, Sabur Herdian Raamin membacakan puisi di Roemah Martha Tilaar Gombong. (suaramerdeka.com / Supriyanto)

GOMBONG, suaramerdeka.com - Beragam komunitas bermunculan bak jamur di musim penghujan. Salah satunya yang cukup menarik perhatian adalah munculnya komunitas sastra yang tergabung dalam Wadah Lingkar Sastra Gombong (Lisong).

Belum lama ini, komunitas ini berkolaborasi dengan komunitas Kalangan Macapatan memaknai hari kemerdekaan RI dengan mengadakan pembacaan sajak-sajak kemerdekaan yang dipadu dengan tembang-tembang Macapat, di Roemah Martha Tilaar Gombong. Acara dihadiri  oleh 50-an pegiat dan peminat sastra dari berbagai wilayah di Kebumen, Banjarnegara dan Banyumas. Sebanyak 15 puisi karya anggota Lisong, baik puisi berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa (Geguritan) dibacakan.

Cara pandang yang beragam dari para penulis puisi justru memperkaya suasana malam itu. Semisal puisi dari Agus Moorsalim yang mengaitkan makna kemerdekaan dengan situasi politik saat ini yang banyak diwarnai skandal pembelian suara. Sementara Karan Figo, penyair dari Sikayu mengisahkan seorang pahlawan di desanya yang sudah lama dilupakan.

Penggagas Lisong, Sabur Herdian Raamin mengatakan bahwa Komunitas LISONG berawal dari sebuah Group WhatsApp penggemar sastra di wilayah Gombong dan sekitarnya. Dalam perkembangannya beberapa perantau asal Kebumen ikut bergabung.

"Saat ini ada 20 sastrawan dan peminat sastra yang sudah bergabung. Hampir setiap hari ada yang membagikan puisi maupun karya sastra lain di group ini. Maka untuk semakin menyemangati para sahabat sastra ini kita buatlah panggung apresiasi sastra yang kebetulan malam ini mengambil tema kemerdekaan,” ungkan Sabur Herdian Ramin.

Sementara Marcomm Roemah Martha Tilaar, Alona Novensa menjelaskan,  pihaknya selalu membuka diri sebagai ruang ekspresi bagi berbagai komunitas seni. Tercatat sejak dibuka akhir 2014, RMT sudah menjadi ajang bagi berbagai pelaku seni, baik seni musik, lukis maupun sastra. "Kami berharap kegiatan itu dapat semakin memacu perkembangan dunia sastra di Kebumen sehingga semakin muncul dalam peta sastra nasional," ujar Alona.


(Supriyanto/CN26/SM Network)