• KANAL BERITA

Lomba Pucang Anak-anak Hibur Warga

Lomba pucang anak-anak di RT 1 RW 3 Kembangarum, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, berlangsung gayeng sebagai hiburan warga dalam rangka Peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan RI. (suaramerdeka.com/Surya Yuli P)
Lomba pucang anak-anak di RT 1 RW 3 Kembangarum, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, berlangsung gayeng sebagai hiburan warga dalam rangka Peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan RI. (suaramerdeka.com/Surya Yuli P)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Lomba pucang atau panjat pinang, menjadi tontonan setahun sekali saat Peringatan Kemerdekaan RI. Seperti yang berlangsung di RT 1 RW 3 Kembangarum, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, kemarin. Pesertanya bukan remaja atau orang dewasa, tetapi anak-anak setingkat SD dan SMP. Pucang yang dipakai pun, bukan dari batang pinang, tapi dari bambu petung. Karena pesertanya anak-anak maka tidak terlalu tinggi.

Gelak dan tawa berlangsung saat perlombaan berlangsung. Maklum pesertanya bukan profesional, sehingga gaheng. Tidak mudah mencapai puncak pucang, di mana hadiah diletakkan. Setiap tim terdiri atas empat anak. Sebenarnya hanya tiga anak bersusun, sudah bisa mencapai puncak. Namun karena bukan profesional, mereka susah bersusun mencapai titik tertinggi. Namun dengan kerja keras, akhirnya salah satu tim bisa mencapai puncak. Menariknya, tim yang bisa berhasil mengambil hadiah, bukan tim putra, tetapi tim putri. Sorak dan tepuk tangan diberikan kepada tim putri itu. Saat tampil, setiap tim diberi waktu lima menit dan hanya bisa mengambil tiga hadiah.

Setelah dua jam berlangsung, oli yang dilumurkan di batang bambu sudah tidak licin lagi. Kesempatan itu tidak disia-siakan setiap tim, sehingga seluruh hadiah bisa diambil dan dibagi rata. Andika (19), ketua Karangtaruna RT 1 RW 3 Kembangarum mengatakan, lomba pucang yang digelar itu khusus bagi anak-anak. Bukan hanya hadiah yang menjadi tujuan utama, tetapi kebersamaan dan keguyupan warga menikmati tontonan dalam rangka Peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan RI.

''Hadiah pucang berasal dari sumbangan orang tua. Setiap kali tampil setiap tim hanya bisa mengambil tiga hadiah,'' ungkapnya.

Menurut Andika, para remaja dan pemuda yang tergabung dalam karangtaruna sengaja menggelar lomba pucang untuk melestarikan budaya, karena lomba itu sudah jarang digelar. Selain lomba pucang anak-anak, dilaksanakan lomba pucang antar remaja di tingkat RW di tempat yang sama. Perlombaan berlangsung malam hari, setelah lomba pucang anak-anak selesai dilaksanakan.


(Surya Yuli P/CN40/SM Network)