• KANAL BERITA

Indonesia Masih Impor Beras, Validitas Data Kementan Dipertanyakan

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Data produksi beras yang dirilis Kementerian Pertanian menunjukan produksi beras surplus untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Namun, sayangnya validitas data tersebut dipertanyakan karena ternyata impor beras masih dibutuhkan.

Pengamat pertanian Khudori menuturkan, selain tidak ada data pembanding dari instansi lain terkait produksi beras, benturan kepentingan dari data yang dihasilkan juga sangat tinggi. Di mana lembaga yang memproduksi data dan yang menggunakannya tidak lain adalah Kementerian Pertanian sendiri. “Surplus kita besar cuma ya tadi, validitasnya diragukan. Conflict of interest-nya tinggi sekali. Kan yang produksi data sama penggunanya sama,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (16/8).

Di samping itu, akademisi ini juga tidak yakin dengan metode perolehan data dari kementerian tersebut. Pasalnya untuk jumlah luasan lahan, tidak ada penghitungan secara riil alias hanya perkiraan. “Pengumpulan datanya memang bukan survei lapangan. Itu tadi perkiraan-perkiraan. Untuk luas panen bukan survei lapangan,” kata Khudori.

Padahal, luas panen sangat menentukan seberapa besar produksi. Di mana total produksi diperoleh dari perkalian antara luas panen dengan produktivitas. Menurut data yang diperoleh dari citra satelit, luas lahan sawah di Indonesia bahkan hanya di angka 7,7 juta hektare. Sementara data Kementan menyebutkan pada akhir 2016, luas lahan sawah tercatat sebesar 12,97 juta hektare.

Namun, menurutnya, impor beras memang tidak bisa hanya mengacu pada produksi beras. Ada masalah lain, yakni penyerapan Bulog yang tidak bisa optimal dikarenakan memang masih rendahnya harga pokok pembelian yang diterapkan pemerintah. “Problem utama terkait impor beras adalah kemampuan Bulog menyerap beras atau gabah hasil produksi dalam negeri,” paparnya.

Apalagi produksi hingga tahun ini, diperkirakan Khudori, akan mengalami gagal panen yang lebih besar dibandingkan tahun kemarin. Musim kemarau yang lebih panjang di 2018 menjadi penyebabnya. “Di berita-berita kan sudah banyak kegagalan panen di daerah-daerah. Cuma masih sporadis, bukan skala nasional,” imbuh pengamat ini.


(Kartika Runiasari/CN26/SM Network)