• KANAL BERITA

Empat SD Wajib Terima Anak Inklusif

Instruktur sekolah inklusif dari Kemdikbud Sujarwanto tengah memberikan bimbingan kepada kepala sekolah, guru, komite dan orang tua murid sekolah dasar se Kecamatan Lasem di SD Ngemplak kemarin. (suaramerdeka.com/Mulyanto Ari Wibowo)
Instruktur sekolah inklusif dari Kemdikbud Sujarwanto tengah memberikan bimbingan kepada kepala sekolah, guru, komite dan orang tua murid sekolah dasar se Kecamatan Lasem di SD Ngemplak kemarin. (suaramerdeka.com/Mulyanto Ari Wibowo)

REMBANG, suaramerdeka.com - Sekolah dasar wajib menerima anak-anak berkebutuhan khusus (inklusif) yang akan bersekolah. Namun belum semua sekolah memiliki kemampuan dan fasilitas untuk memberikan pendidikan inklusif.

Kepala SD Negeri Ngemplak Kecamatan Lasem, Teguh Riyanto mengatakan, di Kabupaten Rembang ada empat sekolah yang sudah mendapatkan bimbingan tekhnis (bimtek) langsung dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Empat sekolah yaitu SD Ngemplak Lasem, SD Tanjungsari 1 Kecamatan Rembang Kota, SMP Negeri 2 Gunem dan SMP 1 Sumber. ''Kami mendapatkan bimtek langsung dari Dirjen pada bulan Mei lalu,'' terang dia.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan bimtek, SD Negeri Ngemplak kemudian memberikan sosialisasi dan bimtek kepada sembilan sekolah dasar di Kecamatan Lasem. Sosialisasi digelar mulai Sabtu hingga Senin kemarin di SD Negeri Ngemplak dengan mendatangkan instruktur sekolah inklusif dari Kemdikbud yang juga Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, Sujarwanto.

''Materi yang diberikan yaitu Kebijakan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Rembang, Konsep Pendidikan Inklusif, Keberagaman Peserta Didik, Identifikasi dan Assestmen, Praktek Identifikasi dan Assesment, Implementasi Pembelajaran di sekolah Inklusif, Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / Program Pembelajaran Individual hingga Praktik Pembelajaran di sekolah inklusif,'' jelas dia.

Dia mengatakan, dari sosialisasi dan bimtek itu diharapkan sekolah bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah setelah sosialisasi dan bimtek diharapkan bisa mengidentifikasikan anak yang berkebutuhan khusus.

''Dulu, anak inklusif atau berkebutuhan khusus dimasukkan ke Sekolah Dasar Luar Biasa. Namun sekarang secara nasional harus diterima di sekolah dasar umum. Karenanya guru sekolah dasar umum setelah sosialisasi dan bimtek ini diharapkan bisa mengidentifikasi anak yang berkebutuhan khusus masuk kategori apa dan bagaimana penangganannya,'' tandas dia.


(Mulyanto Ari Wibowo/CN40/SM Network)