• KANAL BERITA

Proteksi Impor Berlebih, Presiden dan Menteri Harus Turunkan Ego

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sudah saatnya Presiden dan para Menteri menurunkan ego mereka terhadap proteksi impor yang berlebih. Pemerintah ingin memangkas peraturan yang menghambat investasi dan ingin meningkatkan ekspor Indonesia. Tetapi keinginan ini bertolak belakang dengan kebijakan proteksi impor.

Birokrasi yang panjang dan memakan waktu lama, pembatasan kuota dan perizinan, penentuan waktu impor dan hambatan non tarif lainnya akan membawa dampak negatif bagi investasi dan nilai ekspor. Kinerja investasi dan ekspor Indonesia pada akhirnya akan memengaruhi perekonomian Indonesia secara agregat.

“Saat ini banyak produk Indonesia membutuhkan bahan baku yang tidak dapat disediakan oleh dalam negeri sehingga butuh melewati impor. Kalau pemerintah memberikan pembatasan terhadap impor yang berlebihan, tidak hanya akan berdampak pada kerugian yang dirasakan oleh negara eksportir, tetapi dapat menghambat pertumbuhan investasi di dalam negeri. Belum lagi produk Indonesia yang di ekspor akan mengalami penurunan nilai,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri.

Hukum timbal balik berlaku dalam perdagangan. Kalau Indonesia memberikan restriksi impor yang dianggap terlalu proteksionis bagi negara eksportir, sehingga wajar jika Indonesia terancam mendapatkan hambatan dalam mengekspor produk ke negara mitra dagang. Contohnya saja Indonesia menjadi salah satu negara yang terancam keberadannya sebagai negara yang memperoleh fasillitas GSP Amerika.

Pasalnya Indonesia memberikan kerugian bagi produsen Amerika sebagai negara ekspotir, jelas Indonesia akan merasakan dampak proteksionis untuk produk ekspor Indonesia yang dikirimkan ke Amerika. Apalagi seperti yang telah kita ketahui, ada banyak komoditas, seperti tekstil, minyak sawit, dan produk elektronik lainnya yang masih bergantung pada Amerika sebagai pasar ekspor.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)