• KANAL BERITA

Terkait Jembatan Selomanik, DPUPR Wonosobo Minta Warga Bersabar

Foto: Sejumlah pengendara melintasi Jembatan Selomanik di Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, Jumat (10/8) kemarin. (suaramerdeka.com/Abdul Rohman)
Foto: Sejumlah pengendara melintasi Jembatan Selomanik di Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, Jumat (10/8) kemarin. (suaramerdeka.com/Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo meminta para pengguna Jembatan Selomanik di Kecamatan Kaliwiro yang diuruk warga, tetap berhati-hati. Pasalnya, kontruksi dasar jembatan yang mengalami longsor sejak akhir 2017, saat ini sudah tidak layak untuk difungsikan. Jadi bisa sewaktu-waktu mengalami amblas, apalagi ditambah beban material tanah urukan.

Kepala DPUPR Wonosobo, Widi Purwanto menyebutkan, perbaikan Jembatan Selomanik akan dilakukan, namun masyarakat diminta tetap bersabar. Karane membutuhkan anggaran besar. Perbaikan Jembatan Selomanik sudah dimasukan dalam dana alokasi khusus (DAK) 2019. Tak hanya itu, di jalur Kaliwiro-Kalibawang juga terdapat jalan longsor yang juga butuh penanganan serius dari pemerintah.

"Untuk jalan yang longsor harus kita desain kembali, dengan menggeser ke kanan kalau dari arah Kaliwiro. Teman-teman dari DPU juga sudah sosialisasi dan ketemu dengan pak kades, bagaimana mengumpulkan masyarakat, syukur-syukur bisa merelakan sebagaian lahan mereka, seperti halnya yang dilakukan warga masyarakat di wilayah Mlandi Kecamatan Garung untuk jalur alternatif ke Dieng," beber dia.  

Karena, kata dia, jika kondisi jalan yang longsor diperuntukkan lagi, maka bisa dipastikan akan ambles. Jadi solusi yang dilakukan, nantinya jalan yang sekarang longsor akan diberonjong. Karena pihaknya mendeteksi terdapat sumber air yang selalu mengalir.

"Nantinya kalau sudah diberonjong, jalur bisa dilakukan sepeda motor, namun mobil dan truk bermuatan harus menggunakan jalur tanah asli," terang dia.

Dikatakan, jika terpaksa menggunakan jalur yang ada, maka dipastikan akan terus mengalami ambles. Untuk pengurukan juga membutuhkan banyak material karena tinggi longsor sangat dalam mencapai 30 meter.

"Kami juga berharap, masyarakat yang tetap menggunakan jembatan tetap berhati-hati, karena sebetulnya itu sudah tidak layak digunakan," jelasnya.

Dalam sebuah kesempatan, Tokoh Masyarakat Desa Selomanik, Zudi Styawan menyebutkan, secara teknik memang kondisi Jembatan Selomanik sudah tidak layak dilalui. Namun, karena kondisi jalur alternatif melalui Jalan Makam Tumenggung Selomanik mengalami rusak parah, warga terpaksa mengaruk jembatan yang longsor agar bisa dilalui.

"Jalur alternatif rusak parah. Untuk kendaraan roda empat sangat susah melalui," ujar dia.

Dengan kondisi rusaknya jalur alternatif, kata dia, sejumlah warga terpaksa menguruk jembatan yang mengalami longsor, menggunakan sirtu sebanyak dua truk. Sebetulnya, langkah tersebut juga diakui sangat berisiko. Karena kontruksi bangunan sudah sangat rapuh, sehingga bisa sewaktu-waktu terjadi amblas.

"Sebetulnya ini sangat berisiko, tetapi mau bagaimana lagi, hanya ini akses yang ada saat ini," tuturnya.


(M Abdul Rohman/CN42/SM Network)