• KANAL BERITA

Minim Data, Kasus Gempa M7 Jadi Pembuka

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

BANDUNG, suaramerdeka.com - Catatan kegempaan akan aktivitas sesar Flores back-arc Thrust terbilang relatif minim. Kejadian gempa bermagnitude 7 yang mengguncang Pulau Lombok ibarat pembuka untuk mengetahui pola kegempaan di kawasan itu di masa mendatang.

Dalam kaitan itu, Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pernah melakukan model guna memetakan potensi gempa di kawasan tersebut. Mereka membagi sesar di utara Lombok itu sebanyak dua segmen.

"Salah satu segmen kemungkinan magnitude maksimumnya adalah 7,5. Karena minimnya data kejadian gempa yang bisa kita pelajari, kejadian sekarang merupakan pelajaran yang sangat berharga sekali," kata Ahli Gempa ITB, Wahyu Triyoso saat dihubungi SM, Senin (6/8).

Atas kejadian tersebut, dia yang tergabung dalam Pusgen terus melakukan pencermatan terutama atas dinamika pasca kejadian gempa besar yang memakan banyak korban jiwa itu.

"Kita tengah memahami fenomena yang sebenarnya, masih sedang monitoring aftershock-nya, baru bisa kita pahami mekanisme yang mungkin baru sebelum mencoba mengambil kesimpulan," tandasnya.

Mengacu kepada dua segmen tersebut, Wahyu Triyoso menyebut bahwa sebenarnya potensi gempa yang bisa dimunculkan dari sesar Lombok itu bisa lebih besar lagi. Pasalnya, bentang segmennya memungkinkan untuk itu.

Terlebih ada catatan di masa lalu yang menunjukan bahwa pernah ada kejadian hebat muncul yakni pada Tahun 1856. Ada gempa yang diikuti tsunami di Lombok. Dua kejadian tersebut cenderung berulang.

"Boleh jadi tempatnya satu cluster dengan yang sekarang. Untuk membangkitkan tsunami besar, sepertinya harus ada event dengan probabilitas Magnitude M7,7 ke atas, dan jika kedua segmen kita satukan kita akan punya event yang kemungkinan mencapai Magnitude 8, dan mungkin itulah event tahun 1856," tandasnya.

"Mudah-mudahan tidak akan ekstrim, karena ini sulit dikatakan," imbuh Wahyu Triyoso


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)