• KANAL BERITA

Gempa Besar Kembar di Tanah yang Ringkih Akan Gempa

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

BANDUNG, suaramerdeka.com - PVMBG menyebut gempa berkekuatan 7,0 yang meluluhlantakan Lombok pada Minggu (5/8) lalu kemungkinan sebagai gempa utama dari serangkaian aktivitas sesar Flores back-arc Thrust sebelumnya.

Pemicunya di antaranya berasal dari tekanan gempa di zona yang sama, dengan magnitude yang juga tergolong besar pada sepekan lalu, Minggu (29/7) dengan kekuatan 6,4.

Dua fenomena gempa yang berdekatan itu memunculkan pula kemungkinan terjadinya doublet alias gempa kembar di jenis sesar naik tersebut. Pasalnya, pusat gempa kurang dari 100 Km dan kasusnya tak lebih dari tiga tahun meski besarannya magnitudenya harus rapat sekali. Pusat kedua gempa itu sendiri memang tak berjauhan, kurang dari 10 Km.

Potensi besaran gempa di Nusa Tenggara itu juga sudah masuk dalam pemetaan peta gempa nasional yang dirilis 2017. "Di kawasan tersebut, potensinya bisa terjadi sampai magnitude 7,5," tandas Peneliti PVMBG, Rahayu Robiana di Bandung, Senin (6/7).

Dia memperkirakan bahwa relatif cepatnya gempa berkekuatan 7,0 itu terilis setelah segmen bidang patahannya yang sudah terkunci benar-benar tertekan gempa 6,4. Energi pun terilis pada saat lempeng dari utara menunjam ke bawah Pulau Lombok sehingga terangkat. Merujuk foto satelit, pada gempa akhir Juli lalu, daratan tersebut

Pihaknya berharap dengan dua energi besar tersebut, keseimbangan baru di patahan tersebut segera tercipta. Memang akan berlangsung gempa susulan, hanya saja intensitasnya akan semakin menurun dengan magnitude yang juga semakin mengecil.

Berdasarkan peta rawan bencana, Pulau Lombok termasuk dominan kawasan zona menengah terpapar. Selebihnya masuk zona merah tinggi yakni di sekitar Kota Mataram dan Lombok Tengah plus sekitar Gili Trawangan.

Kawasan tersebut semakin parah terkena gedoran gempa, terlebih berpusat di darat, karena jenis lapisan tanahnya yang belum kompak yakni batuan rombakan gunung api muda yang bersifat mudah urai. "Banyak yang gembur," kata Robi.

Selain itu, bangunan yang didirikan cenderung belum memenuhi kaidah supaya tahan gempa terutama tiang beton untuk mencengkram keseluruhan bahan. Karenanya, begitu ada gedoran kencang, banyak rumah yang mengalami kerusakan akibat kedua gempa tersebut.

"Bangunan yang sudah rusak karenanya harus ditinggalkan, apalagi dengan banyaknya gempa susulan yang akan membuat situasinya bertambah membahayakan," tandas Kepala PVMBG, Kasbani.


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)