• KANAL BERITA

Tungguk Tembakau, Ritual Awal Panen

Tokoh agama memimpin doa mengawali ritual tungguk tembakau di Desa Senden, Kecamatan Selo, kemarin. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Tokoh agama memimpin doa mengawali ritual tungguk tembakau di Desa Senden, Kecamatan Selo, kemarin. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Warga Desa Senden, di kawasan lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Selo, Kamis (2/8) pagi, menggelar Festival Tungguk Tembakau sebagai penanda mengawali kegiatan panen tembakau. Warga terlihat gembira untuk mengikuti dan menyaksikan ritual petik daun tembakau tersebut.

Berbagai ornamen tradisional seperti umbul-umbul menambah semarak suasana jalur pedesaan yang kanan kirinya ditumbuhi oleh tanaman tembakau. Ritual dimulai dengan doa bersama di makam Syekh Kerto Muhamad yang menjadi titik awal lokasi ritual. Warga juga menyertakan  dua gunungan yakni gunungan daun tembakau dan gunungan hasil bumi.

Setelah itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memetik daun tembakau segar pada hamparan lahan kebanggaan petani setempat. Selepas pemetikan, kedua gunungan ritual diarak menuju panggung utama untuk diperebutkan warga.

Dengan diiringi tari tarian tradisional, gunungan tersebut diarak sejauh 2,5 kilometer sebagai wujud rasa syukur atas dimulainya panen tembakau yang menjadi bahan baku rokok dan berbagai bahan kimia ini.

Menjaga Tradisi

Selain untuk memulai panen tembakau, tradisi tersebut juga sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan tembakau yang berkualitas. Kegiatan tersebut juga sekaligus sebagai upaya mengenalkan kawasan wisata di Selo.

‘’Sebenarnya ini bisa menjadi satu cara mereka hormat pada Tuhan sebagai ucap syukur, di sisi lain ada sisi kultural. Para petani dan warga menjaga tradisi selalu dipelihara, dan Insya Allah akan diberikan panen yang bagus, harganya bagus, dan bikin sejahtera,’’ kata Gubernur.

Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, M Said Hidayat mengungkapkan, tembakau yang dihasilkan oleh petani di lereng Gunung Merapi ini. ‘’Semoga ini menjadi satu keberkahan dan menjadi ladang rejeki bagi petani untuk kesejahteraan mereka,’’ tandasnya.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)