• KANAL BERITA

Ogah Repot, Petani Tembakau Pilih Sistem Tebas

JEMUR TEMBAKAU: Seorang petani di Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk menjemur tembakau rajangan di halaman rumahnya, Selasa (31/7). (Foto suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
JEMUR TEMBAKAU: Seorang petani di Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk menjemur tembakau rajangan di halaman rumahnya, Selasa (31/7). (Foto suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Sudah menjadi kebiasaan, saat panen tembakau di wilayah Kecamatan Cepogo, sebagian besar memilih menebaskan hasil panen langsung di ladang. Mereka mengaku tidak mau repot mengolah tembakau hasil panen karena dinilai prosesnya panjang.

‘’Dengan sistem tebasan, petani tidak repot. Petani langsung terima uang sesuai kesepakatan dan panen dilakukan penebas,’’ ujar Tunggal (54) petani tembakau asal Dukuh Kujon, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo.

Dia mengaku, panen kali ini tembakau seluas 1.000 meter persegi itu cukup bagus. Hasil panen laku langsung tebas di pohon dengan harga Rp 10 juta. Harga tersebut lebih baik dibandingkan tahun lalu. Saat ini, dia hanya mampu meraih pendapatan sebesar Rp 7,5 juta karena panen terus diguyur hujan. ‘’Luas lahan tembakau sekitar 1.000 m persegi lebih sedikit.’’

Bahkan, dirinya juga ikut menjadi perantara penebas tembakau di kawasan ladang di desanya. Warga percaya, sehingga dia diberi kewenangan sebagai penghubung antara petani tembakau dan penebas.

‘’Bahkan, penebas sering mempercayakan ke saya untuk memutuskan harga tebasan tembakau. Tetapi saya ikut bertanggungjawab, jangan sampai penebas rugi.’’

Terpisah, Yoto (65) penebas tembakau asal Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk mengaku sudah mulai membeli tembakau hasil panen. Sasaran pembelian selain di wilayah Musuk, mencakup wilayah Kecamatan Cepogo. ‘’Saya sudah mengeluarkan uang hingga Rp 80 juta untuk menebas tembakau milik petani.’’

Pasar Salatiga

Saat ini harga tembakau basah Rp 10.000/kg. Dia lebih senang membeli dengan sistem tebasan dengan perhitungan, setiap batang mampu menghasilkan tembakau basah 1 kg- 1,25 kg. ‘’Tetapi panen tembakau tak bisa dilakukan sekaligus.  Panen dilakukan bertahap hingga tiga kali mulai daun terbawah.’’

Proses panen tembakau setelah panen dirajang di rumahnya kemudian dikeringkan. Setelah itu, dimasukkan ke dalam keranjang yang dilapisi pelepah batang pisang kering. ‘’Lalu tembakau disimpan dan dijual ke pasar.’’

Penjualan langsung ke pasar di Salatiga. Sekali berangkat, bisa menjual 20 kg- 50 kg. Para pembeli selain pedagang tembakau eceran, para penikmat rokok tingwe (linting dhewe).

Dirinya tidak mau ikut- ikutan menjual tembakau rajangan kering ke gudang pabrik rokok. Alasannya, biaya pengepakan dan pengadaan keranjang dibebankan petani atau penjual. Selain itu, penimbangan berat tembakau sering dipotong. ‘’Misal satu keranjang 70 kg, paling hanya dihitung 65 kg.’’ 


(Joko Murdowo/CN19/SM Network)