• KANAL BERITA

Iklan Rokok Direlokasi ke Pinggir Kota Solo

PERIKSA PARU-PARU : Pasien menjalani pemeriksaan kualitas paru-paru di klinik berhenti merokok Puskesmas Purwodiningratan. (suaramerdeka.com / Yusuf Gunawan)
PERIKSA PARU-PARU : Pasien menjalani pemeriksaan kualitas paru-paru di klinik berhenti merokok Puskesmas Purwodiningratan. (suaramerdeka.com / Yusuf Gunawan)

SOLO, suaramerdeka.com - Pemkot Surakarta bakal menata ulang penempatan media iklan luar ruang yang menampilkan produk rokok. Iklan rokok di tengah kota menghambat pencapaian program Kota Layak Anak (KLA), sehingga iklan rokok akan direlokasi ke daerah pinggiran kota.

"Kami sedang menyiapkan kajian untuk keperluan tersebut, dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait. Penempatan ulang media iklan luar ruang tersebut diharapkan mampu membatasi iklan yang menampilkan produk rokok di Solo," ungkap Kepala Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPPKAD) Yosca Herman Soedradjad.

Pembatasan iklan rokok dengan merelokasi tempat pemasangan reklame, spanduk,  vertical banner  dan media iklan luar ruang lain ke pinggiran kota itu dinilai lebih efektif dibanding menghapusnya secara total. "Kami belum bisa langsung meniadakan iklan rokok, karena masih harus mengakomodasi kepentingan biro iklan. Yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah menempatkannya di pinggir-pinggir kota, agar tidak langsung terakses oleh publik terutama anak-anak."

Beberapa titik di daerah pinggiran Solo, seperti pintu masuk kota di Jurug dan Kleco, kawasan Kadipiro dan titik lain dibidik menjadi lokasi baru bagi pemasangan media iklan luar ruang yang menampilkan produk rokok. Pembatasan iklan rokok itu juga bakal diikuti penyusunan rencana induk ( masterplan ) penataan iklan. "Masukan dari praktisi periklanan juga akan dijadikan bahan pertimbangan. Ttitik-titik iklan itu bisa diatur lebih jelas," tegas Herman.

Kebijakan itu guna mengejar predikat utama Kota Layak Anak (KLA). Sejak diwacanakan pada 2011 melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Nomor 130.05/68-F/1/2011 tentang Pembentukan Gugus Tugas Pengembangan KLA, capaian program KLA masih tertahan di predikat utama. Salah satu pemicunya adalah masih bertebarannya iklan rokok di sejumlah titik strategis Kota Solo.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP2APM), Widdi Srihanto mengakui, upaya meraih predikat KLA tidaklah mudah direalisasikan. Di Indonesia, capaian target KLA tertinggi baru sebatas utama yang pekan lalu berhasil dipertahankan Kota Solo.


(Agustinus Ariawan/CN26/SM Network)