• KANAL BERITA

Tim Cagar Budaya Berhasil Baca Huruf Jawa Dodopeksi Masjid Jami Lasem

Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang tengah membaca aksara Jawa yang terukir di kayu dodopeksi Masjid Jami Lasem, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Mulyanto Ari Wibowo)
Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang tengah membaca aksara Jawa yang terukir di kayu dodopeksi Masjid Jami Lasem, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Mulyanto Ari Wibowo)

REMBANG, suaramerdeka.com - Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang yang berkunjung ke Lasem, baru-baru ini, berhasil membaca sebagian huruf yang terpahat di kayu dodopeksi (penyangga atap) Masjid Jami Lasem. Sebelumnya huruf jawa lama yang tidak bisa terbaca oleh sejumlah ahli itu diperkirakan berasal dari era akhir Kerajaan Singosari atau awal Majapahit.

Pengasuh Perpustakaan Masjid Jami Lasem, Abdullah Hamid mengatakan, awalnya Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang hanya berencana melakukan studi banding ke Lasem. ''Saat berkunjung ke Masjid Jami  Lasem, tim dari Malang itu saya tunjukkan kayu dodopeksi yang masih tersisa,'' terang dia.

Salah satu tim ahli yaitu Ki Dwi Cahyono yang merupakan ahli cagar budaya Malang menyempatkan diri membaca sejumlah huruf yang terukir di dodopeksi itu.

''Aksara yang terpahat di dodopeksi itu diyakini merupakan aksara Jawa Tengahan Kuno. Ketika dibaca tim ahli, ada dugaan angka 1.388 Masehi atau 1.310 Saka. Masa itu adalah masa Bhree Lasem akhir di era Majapahit Hayamwuruk. Bahkan bisa jadi lebih tua dari itu. Angka kedua yang terukir itu memang sudah agak kabur,'' jelas dia.

Sejarah Perkembangan Islam

Dia mengatakan apabila angka yang tertera di dodopeksi itu benar-benar 1.388 Masehi, maka bisa menjadi catatan baru sejarah perkembangan Islam di Jawa. ''Kalau benar angka itu, bisa diartikan Islam sudah masuk pesisir Lasem pada era Majapahit awal. Namun penelitian ini tentu masih tentatif dan perlu tindak lanjut yang serius ke depan,'' kata dia.

Meski pun belum semua aksara terbaca utuh, namun sedikit banyak menjawab rasa penasaran sebagian kalangan terkait tulisan di dodopeksi Masjid Jami itu. ''Sudah ada beberapa ahli yang berusaha membaca. ''Namun baru dari Malang saja yang memiliki keyakinan mengenai angka yang tertera di kayu dodopeksi itu,'' kata Abdullah.

Kayu dodopeksi itu dibongkar saat renovasi Masjid Jami Lasem pada sekitar tahun 2000-an. Awalnya kayu itu hanya digeletakkan begitu saja, namun beberapa orang kemudian melihat ada tulisan yang sudah memburam di kayu itu.

Selain kayu dodopeksi, saat pembongkaran, makutapraba atau pucuk atap masjid yang terbuat dari terakota (tanah liat yang dibakar) juga sempat terbengkalai. Sekarang makutapraba itu dimasukkan ke tempat khusus di sekitar Perpustakaan Masjid Jami Lasem.


(Mulyanto Ari Wibowo/CN40/SM Network)