• KANAL BERITA

Atasi Delapan Isu Strategis, Pemprov Jateng Kolaborasi Akademisi

ISU STRATEGIS: Kepala Bappeda Jateng Sujarwanto Dwiatmoko membuka seminar regional pembangunan sektor strategis berbasis pengembangan wilayah guna mendukung daya saing Jateng di kantor Bappeda Jateng. (suaramerdeka.com / Hanung Soekendro)
ISU STRATEGIS: Kepala Bappeda Jateng Sujarwanto Dwiatmoko membuka seminar regional pembangunan sektor strategis berbasis pengembangan wilayah guna mendukung daya saing Jateng di kantor Bappeda Jateng. (suaramerdeka.com / Hanung Soekendro)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sebanyak 288 akademisi dan praktisi memaparkan hasil penelitian dan gagasannya untuk pembangunan delapan isu strategis di Jawa Tengah. Kontribusi akademisi dan praktisi memang sangat dinantikan sehingga bisa menjadi pijakan yang tepat untuk menetapkan kebijakan pembangunan.

Kepala Bappeda Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan Pemprov Jateng mengakomodasi gagasan-gagasan tersebut. Namun, pihaknya lebih dulu memilah mana hasil penelitian yang inovatif ataupun yang telah usang teorinya. Untuk gagasan inovatif ditindaklanjuti dengan rumusan kebijakan.

“Dalam dunia penelitian dan pengembangan dirumuskan menjadi kebijakan oleh gubernur. Ini merupakan tahun kedua (seminar) dan kita ingin akademisi memiliki kontribusi yang nyata untuk pembangunan Jawa Tengah,” kata Sujarwanto usai membuka seminar regional pembangunan sektor strategis berbasis pengembangan wilayah guna mendukung daya saing Jateng di kantor Bappeda Jateng, Rabu (25/7).

Delapan isu strategis yang dibahas dalam seminar tersebut adalah penanggulangan kemiskinan, penguatan daya saing ekonomi, tata kelola pemerintahan, kualitas hidup dan daya saing SDM. Ketahanan pangan dan energi, kesenjangan wilayah, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pengelolaan SDA, lingkungan hidup dan penanggulangan bencana.

Dari jumlah itu, lanjut Sujarwanto, banyak pemakalah yang memberikan gagasannya soal penanggulangan kemiskinan serta pembangunan secara fisik. Belum banyak yang menyentuh perihal perilaku dan budaya masyarakat.

Selain menghimpun hasil penelitian dan gagasan, seminar yang berlangsung hingga Kamis (26/7) itu untuk memperkuat jejaring penelitian dan pengembangan dalam memperkaya rekomendasi hasil riset untuk pembangunan daerah. Utamanya mampu membuat kebijakan pembangunan daerah yang berkualitas berbasis riset. Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih serta meningkatkan pelayanan publik.


(Hanung Soekendro/CN26/SM Network)