• KANAL BERITA

Warga Wonokerto Berebut Gunungan Hasil Bumi

Sejumlah warga Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah berebut gunungan pada perayaan Sedekah Bumi di desanya, kemarin. (suaramerdeka.com/Hasan Hamid)
Sejumlah warga Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah berebut gunungan pada perayaan Sedekah Bumi di desanya, kemarin. (suaramerdeka.com/Hasan Hamid)

DEMAK, suaramerdeka.com - Ratusan warga Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah berebut gunungan hasil bumi usai diarak dalam Sedekah Bumi atau tradisi Apitan yang digelar pemerintah desa tersebut, Minggu (22/7). Sedikitnya terdapat empat gunungan yang berisi aneka hasil bumi, mulai dari padi, terong, ketela pohon, ubi-ubian, jambu air, mentimun, wortel, kacang panjang, tomat, pisang, melon dan aneka dedaunan serta bunga.

Tradisi tersebut diawali dengan acara selamatan dan arak-arakan membawa gunungan serta tumpeng dari rumah Kepala Desa Wonokerto, Bambang Untoro. Setelah upacara pelepasan gunungan dan tumpeng dibawa keliling desa. Kegiatan yang diikuti seluruh perangkat desa dan ribuan warga tersebut berlangsung meriah. Di belakang iringan pembawa tumpeng yang berpakaian adat Jawa, terdapat kelompok rebana dan tari zipin. Mereka melantunkan shalawat nabi yang diikuti warga. Tampak di antara iringan Camat Karangtengah, Bekti Utomo serta para pejabat forkopimcam Karangtengah.

Mereka berjalan menuju makam Mbah Santri Harun yang satu lokasi dengan Masjid Harun. Mbah Santri merupakan cikap bakal atau orang yang kali pertama menempati desa tersebut.

Sesampai di masjid, empat gunungan diletakan di teras bersama sejumlah tumpang. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin sesepuh dan tokoh agama setempat. Begitu pembacaan doa selesai, sebagian warga langsung merangsek dan berebut untuk mendapatkan hasil bumi pada gunungan yang telah diarak.

Kades Wonokerto, Bambang Untoro mengatakan, berebut gunungan menjadi moment yang ditunggu-tunggu warga di setiap perayaan tradisi apitan. Mereka percaya, hasil bumi yang telah diarak keliling desa dan dibacakan doa-doa dapat mendatangkan keberkahan. "Masyarakat mempercayai ada keberkahan dari hasil bumi yang telah diarak pada sedekah bumi," katanya.

Keyakinan itu bukan tanpa alasan, sebab sedekah bumi merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat dan pemerintah desa kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dan berbagai keberkahan yang telah diterima. "Apa yang kami kirab ini semua bagian dari sedekah, dan ungkapan rasa syukur. Sehingga, cukup beralasan jka masyarakat percaya semua yang keluar dari sedekah dan ungkapan syukur akan menghasilkan keberkahan yang lebih banyak," terang Bambang Untoro.

Dia menambahkan, tradisi apitan digelar setiap tahun sekali dan melibatkan seluruh RT dan warga dusun. Hampir semua warga ikut berpartisipasi membuat gunungan dan tumpeng. Mereka juga menyempatkan diri untuk hadir secara langsung para kirab gunungan tersebut.

Seorang warga yang ikut berebut gunungan, Mustofa mengaku bersyukur mendapatkan sayur dan buah-buahan. "Mudah-mudahan hasil pertanian saya dan warga di sini kembali berlimpah," ujarnya, sembari mencium buah dan sayuran yang baru didapatnya.

Puncak acara diisi dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman rumah kepala desa.


(Hasan Hamid/CN40/SM Network)