• KANAL BERITA

Tahun Depan, 14 Unit BRT Layani Jalur Demak

Foto: istimewa
Foto: istimewa

DEMAK, suaramerdeka.com - Tahun depan, jalur Demak-Semarang akan terlayani moda transportasi massal bus rapid test (BRT). Jalur tersebut akan diperkuat dengan 14 unit bus yang berasal dari bantuan Kementerian Perhubungan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Demak, Tri Wahyu Hapsari mengatakan, keberadaan bus tersebut akan mendukung terminal tipe A di Demak yang juga akan beroperasi tahun 2019. Rute yang akan dilalui BRT Semarang-Demak adalah Bandara Ahmad Yani, Stasiun Poncol, Stasiun Tawang, Kaligawe, Sayung, Masjid Agung Demak, Kadilangu, Jogoloyo, Terminal Demak dan kembali ke Kota Semarang.

Rencananya, akhir Juli akan digelar sosialisasi dan ditindaklanjuti dengan pembuatan selter di 40 titik. "40 selter tersebut bukan hanya yang ada di Kabupaten Demak tetapi sudah termasuk yang ada di Kota Semarang," katanya.

Rute BRT Semarang-Demak selain berfungsi untuk meningkatkan pelayanan publik, juga mempermudah jalur transportasi bagi para peziarah. Sebab, rute bus tersebut melewati masjid Agung Demak dan Kadilangu. Di belakang Masjid Agung Demak terdapat lingkungan permakaman para raja-raja Kesultanan Demak, ada pun di Kadilangu terdapat makan Sunan Kalijaga. Dua lokasi wisata ziarah tersebut setiap tahun tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan.

"Jadi para peziarah dari luar kota, atau yang dari bandara Ahmad Yani bisa sekali jalan dengan naik BRT," terangnya.

Selain BRT, tahun ini Pemkab Demak akan menerima bantuan bus sekolah sebanyak enam unit. Bus yang akan melayani transportasi siswa tersebut diharapkan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan pelajar dalam menempuh pendidikan. "Kami masih mengkaji rute mana saja yang akan dilalui, tentunya mempriorotaskan
jalur yang padat dilalui siswa, atau jalur yang belum terlayani moda transportasi untuk siswa menuju sekolah," katanya.

Pertimbangan lainnya adalah sarana prasarana jalan yang memadahi. Sebab, meski sebagian besar jalan di Demak terbangun dengan konstruksi cor beton tetapi masih ada ruas jalan yang belum lebar atau belum bisa untuk dua bus berjalan dari arah berlawanan. Dia menuturkan, BRT dan bus sekolah merupakan bus pelayanan publik sehingga pemerintah tidak berpikir dari asek profit. Bahkan untuk bus sekolah tidak dipungut biaya.

"Kami akan mengkomunikasikan hal ini dengan DPRD, mengingat perlu ada alokasi dana untuk operasional pelayanan," ujarnya.


(Hasan Hamid/CN40/SM Network)