• KANAL BERITA

Harga Telur Berangsur Turun

Dampak Operasi Pasar

Operasi pasar telur ayam ras di Pasar Gede Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
Operasi pasar telur ayam ras di Pasar Gede Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Operasi pasar (OP) telur ayam ras yang digelar tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Solo, Jumat (20/7), mulai terasa dampaknya.
Harga komoditas itu mulai berangsur turun. Di Pasar Lagi dan Pasar Gede, Minggu (22/7), di tingkat eceran harga telur ayam ras turun menjadi Rp 22.000,- hingga Rp 22.500,- per kg dari semula Rp 24.000,- hingga Rp 25.000,-.

Ada pun dalam OP, telur dijual seharga Rp 20.500 hingga Rp 21.000. "Dari distributor atau pemasok, harga sudah turun, makanya harga kita menyesuaikan," kata Tutik, salah satu pedagang telur di Pasar Legi, Minggu (22/7).

Sebelumnya TPID berencana menggelar OP selama sepekan hingga harga telur mencapai titik ideal, yakni berkisar antara Rp 22.000,- hingga Rp 22.500,- per kg. Setelah evaluasi, OP juga akan terus diperpanjang jika harga telur belum menemukan harga ideal.

"Dari operasi pasar ini, kita pinginnya harga telur stabil sedang tidak stabil tinggi," kata M Taufik Amrozy, deputy kepala kantor perwakilan Bank
Indonesia (BI) Solo sekaligus wakil sekretaris TPID.

Salah seorang peternak ayam petelur, Beny Irawan, mengakui bahwa harga telur ayam ras seharusnya tidak tinggi. Dari peternak dagangannya hanya Rp 18.000,-
hingga Rp 18.500,- per kg. "Saya kira harga telur idealnya segitu, Rp 22.000 per kilogram," kata dia, yang diajak kerja sama TPID dalam operasi pasar.

Menurut Beny, panjangnya rantai distribusi diduga menjadi salah satu sebab tingginya harga telur di pasaran. Sebab, produksi telur relatif stabil. Sebelum sampai ke pedagang eceran di pasar tradisional, jelasnya, telur itu melalui rantai distribusi dari pengepul besar dan beberapa pengepul kecil.
'
Jika masing-masing pengepul mengambil untung seribu hingga dua ribu rupiah per kg, maka di tangan konsumen harga akan tinggi. Apakah rantai distribusi perlu dipotong? "Saya kira tidak sampai sejauh itu, sebab semua butuh makan. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah menentukan harga eceran tertinggi atau HET, misalnya seharga Rp 22.000,- per kg. Yang penting semua bisa makan, mulai dari peternak, pengepul besar dan pengepul kecil, hingga pedagang eceran," tandasnya.


(Langgeng Widodo/CN40/SM Network)