• KANAL BERITA

Tingkat Keluar Masuk Karyawan Lulusan SLTA Tinggi

Pencari kerja melihat papan pengumuman lowongan pekerjaan di BBPLK Semarang Jl Majapahit, Semarang, Jumat. (suaramerdeka.com/ Arie Widiarto)
Pencari kerja melihat papan pengumuman lowongan pekerjaan di BBPLK Semarang Jl Majapahit, Semarang, Jumat. (suaramerdeka.com/ Arie Widiarto)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Dunia usaha mengeluhkan masih tingginya angka turnover atau keluar masuk karyawan lulusan SLTA khususnya yang bekerja dibawah 3 bulan. Salah satu penyebab tingginya angka tersebut karena lulusan SLTA baik SMA maupun SMK belum memiliki mental siap kerja.

''Di Alfamart tingkat turun over tinggi terjadi karyawan lulusan SLTA. Kebanyakan mereka tidak siap kerja dan hanya ingin coba-coba, bahkan ada yang satu hari masuk kerja, besoknya sudah keluar,'' ungkap Direktur Human Capital Alfamart Bp Tri Warsono Sunu usai penandatanganan kerja sama dengan Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang Edi Susanto di kantor Jl Majapahit, Jumat (20/7).

Menurut Tri Warsono, penyebab lain secara pendidikan para calon karyawan yang keluar masuk ini tidak sesuai bidangnya. Misalnya, lulusan SMK yang bukan jurusan ritel kemudian menjadi karyawan bidang penjualan. "Sebenarnya kalau dari sisi kompetensi mereka bisa dilatih. Yang jadi persoalan selama ini adalah kesiapan dalam masuk kerja," jelasnya.

Ia menyebut turnover di perusahaan ritel tersebut mencapai 3% setiap perekrutan. Padahal setiap tahun Alfamart merekrut 25 ribu orang untuk 32 kantor cabang di seluruh Indonesia. "Tentu ini termasuk tinggi jika dihitung secara keseluruhan karyawan yang kami rekrut," jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya bekerja sama dengan BBPLK Semarang untuk mendidik calon karyawan yang siap kerja. Calon tenaga kerja ini nantinya akan diberikan pelatihan dengan metode berbasis kompetensi. "Setelah mengikuti pelatihan, para peserta akan langsung memperoleh pekerjaan sebagai Member Relations Officer (MRO) Alfamart," ujar Tri.

Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang Edi Susanto menyatakan sebagai perusahaan padat karya, dengan total karyawan lebih dari 130.000, Alfamart memahami betul pentingnya keselarasan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan di dunia industri.  

"Untuk itu, dengan adanya kolaborasi ini, kami berharap bisa menjadi solusi bagi berbagai pihak. Calon tenaga kerja dapat terserap dengan baik, di sisi lain kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja yang kompeten juga terpenuhi," ungkap dia.

Dalam kerja sama tersebut, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker RI, juga turut berperan melalui pendanaan, pelatihan, penyediaan sarana prasarana, serta pemberian sertifikat pelatihan.


(Arie Widiarto/CN33/SM Network)