• KANAL BERITA

Indonesia Harus Intensifkan Ekspor ke Negara Non Tradisional

Tingkatkan Nilai Ekspor

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Di tengah hangatnya wacana pencabutan fasilitas generalized system of preference (GSP) oleh Amerika Serikat kepada sejumlah komoditas ekspor Indonesia, Indonesia sebenarnya masih sangat berpotensi meningkatkan nilai ekspornya. Salah satunya adalah melalui ekspor ke negara-negara non tradisional.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karin Saputri mengatakan, pasar ekspor ke negara-negara non tradisional dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Nilai ekspor Indonesia terhadap negara non tradisional relatif mengalami surplus dalam satu tahun terakhir terutama ke Turki dan Bangladesh.

Nilai neraca perdagangan Indonesia dengan Turki terus mengalami peningkatan. Pada 2013, nilainya mencapai USD 221.265,8 dan naik menjadi USD 415.483,7 pada 2014 dan USD 909.011,9 pada 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi USD 712.915,4 dan USD 634.871,7. Nilai neraca perdagangan yang terus meningkat juga terjadi pada Indonesia dengan Bangladesh.

Pada 2013 nilainya adalah USD 978.289,7 dan meningkat menjadi USD 1.306.319,2 pada 2014. Pada 2015 ada sedikit penurunan menjadi USD 1.281.323,2 dan kembali naik pada 2016 menjadi USD 1.198.283,8 dan USD 1.522,607,9 pada 2017.

Neraca perdagangan Indonesia dengan dua negara tersebut mengalami kenaikan surplus masing-masing sejumlah 48,97% untuk Turki dan 43,44 persen untuk Bangladesh. Kondisi Ini menjelaskan bahwa produk Indonesia diterima dengan baik oleh negara-negara non tradisional.

"Selain peningkatan kualitas produk Indonesia supaya daya saing makin kuat, sudah saatnya pemerintah melihat potensi dari negara-negara non tradisional. Pemetaan penting dilakukan supaya pasar untuk produk Indonesia semakin luas," urai Novani.

Ia menyebut, Indonesia harus memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional, terutama yang sudah berlangsung, untuk meningkatkan volume nilai ekspor Indonesia. Kesempatan ini adalah kesempatan yang baik terutama di tengah defisit neraca perdagangan. Selain mendapatkan pangsa pasar baru, Indonesia juga dapat memperoleh penghapusan dan atau pengurangan tarif impor untuk beberapa produk Indonesia yang selama ini sudah tercantum dalam perundingan lndonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)