• KANAL BERITA

Penuntasan Pengosongan Lahan Tinggal Hitung Hari

Pemindahan Warga di Dalam IPL NYIA

Salah satu rumah warga penolak yang masih tersisa di dalam wilayah IPL pembangunan bandara NYIA di Desa Glagah, Temon, Kulonprogo masih utuh berdiri saat dilakukan lanjutan pembersihan lahan beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/ Panuju Triangga)
Salah satu rumah warga penolak yang masih tersisa di dalam wilayah IPL pembangunan bandara NYIA di Desa Glagah, Temon, Kulonprogo masih utuh berdiri saat dilakukan lanjutan pembersihan lahan beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/ Panuju Triangga)

KULONPROGO, suaramerdeka.com – PT Angkasa Pura I dan Pemkab Kulonprogo akan segera melakukan penuntasan pengosongan lahan dalam hitungan hari untuk pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Pengosongan dilakukan dengan memindahkan warga penolak yang masih bertahan di dalam wilayah Izin Penetepan Lokasi (IPL) NYIA.

Seperti diketahui, saat ini masih ada 31 rumah dihuni 37 keluarga yang bertahan di dalam wilayah IPL NYIA dan masih menolak untuk keluar. Direncanakan warga yang masih bertahan di dalam IPL tersebut akan direlokasi atau dipindahkan ke luar wilayah IPL. Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengungkapkan, penyelesaian pengosongan lahan dengan pemindahan warga akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Dalam waktu dekat ini kita akan finishing untuk masalah akuisisi lahan. Finishing touch untuk akuisisi lahan di last time bukan last minute lagi ini mudah-mudahan bisa berjalan lancar dan tidak ada halangan apa pun,” kata Hasto saat menghadiri peresmian Balai Pemberdayaan Masyarakat (BPM) PT Angkasa Pura I kemarin.

Hasto menegaskan, pelaksanaan penuntasan pengosongan lahan tinggal menunggu hitungan hari bukan hitungan minggu. “Secepatnya, tapi secepatnya ini bukan hitungan minggu tapi hitungan hari,” tegasnya.

Terkait teknis pelaksanaannya, lanjut Hasto, akan dilakukan bersama dengan tim. Namun mengingat waktu yang cepat maka akan dilaksanakan simultan antara pemindahan warga dengan perobohan rumah yang telah ditinggalkan. “Kita tidak ingin membuat tahapan-tahapan yang memperpanjang waktu. Tapi sekali lagi persuasif itu dikedepankan, simultan, dan cepat,” tuturnya.

Hasto menambahkan, dari 31 rumah tersebut, sudah ada lima keluarga yang menginginkan untuk pindah menempati rumah relokasi magersari di Desa Kulur.

Dirut PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi mengatakan, sudah banyak hal yang dilakukan untuk memastikan bahwa proyek pembangunan bandara di Kulonprogo bisa berjalan dengan baik, lancar, dan bisa memenuhi harapan masyarakat. Pembangunan bandara dimaksudkan untuk membantu mensejahterakan masyarakat, sehingga cara-cara yang dilakukan juga dengan cara baik.

“Dalam satu minggu terakhir ini desakan untuk mempercepat itu jauh lebih kuat dibanding yang masih menolak,” ungkapnya.


(Panuju Triangga/CN33/SM Network)