• KANAL BERITA

Jumlah Penduduk Miskin Jateng Turun 11,32 Persen

Foto Istimewa
Foto Istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah merilis jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada bulan Maret 2018 berkurang 300,29 ribu orang atau turun 11,32 persen dari 3,90 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang mencapai 4,20 juta orang. 

Margo Yuwono Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah menjelaskan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah ini merupakan yang terbanyak jika dibandingkan provinsi lain. 

"Kemiskinan di Jawa Tengah penurunan tertinggi ini merupakan upaya pemerintah dalam menurunkan kemiskinan berhasil dengan program yang berkelanjutan," jelasnya di Semarang, Senin (16/7). 

Margo mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah adalah mampu menjaga inflasi agar tetap rendah, Nilai Tukar Petani (NTP) yang relatif bagus sehingga nilai tukar petani semakin lama semakin bagus dan adanya program bantuan pangan non tunai yang lancar disalurkan ke rumah tangga sasaran. 

"Jadi selama itu konsisten, tren itu bisa terus kita pertahankan sehingga Jawa Tengah semakin lama kemiskinan berkurang cukup banyak," katanya. 

Berdasarkan daerah tempat tinggal pada periode September 2017-Maret 2018 jumlah penduduk miskin di perkotaan mengalami penurunan sebesar 99,42 ribu orang dan di pedesaan juga mengalami penurunan sebesar 200,88 ribu orang. 

Sementara itu prosentase penduduk miskin baik di perkotaan maupun pedesaan mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan September 2017. Prosentase kemiskinan di perkotaan turun dari 10,55 persen menjadi 9,73 persen. Sedangkan di pedesaan turun dari 13,92 persen menjadi 12,99 persen. 

Peran komoditi makanan juga memberikan andil terhadap garis kemiskinan dibandingkan komoditi bukan makanan.  Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan Maret 2018 tercatat 73,33 persen. 

"Jenis komoditi makanan yang berpengaruh adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, tempe, tahu, mie instan, bawang merah dan kue basah," ucapnya. 

Sementara itu komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan, kesehatan dan perlengkapan mandi. 


(Cun Cahya/CN19/SM Network)